5 Tips Untuk Membangun Kinerja Tim Kamu!

Target sering meleset dan turnover karyawan tinggi? Saatnya merenungi bagaimana hubungan kita dengan karyawan kita. Apakah baik, atau buruk? Tugas seorang atasan adalah mengelola anak buahnya untuk mencapai tujuan perusahaan, dan dalam beberapa situasi, untuk memenuhi harapan pelanggan. Tantangan utama dari pekerjaan ini adalah bahwa ia harus menjembatani kesenjangan antara manajemen senior dan karyawan, dan untuk melakukan ini, seorang atasan membutuhkan seperangkat keterampilan khusus yang tak dimiliki semua orang.

Dari sekian banyak hal yang sering dikeluhkan karyawan, yang paling sering terdengar adalah keluhan soal atasan mereka. Bahkan, banyak karyawan memutuskan untuk mengundurkan diri karena manajer atau supervisor mereka. Beberapa atasan memang punya kepribadian ‘sulit’ yang memang tak mudah untuk diubah. Seorang karyawan pernah membuat daftar keluhan tentang bosnya; isinya seperti ini:

Bos saya seringkali melakukan micro-manage; mengatur pekerjaan saya hingga detail terkecilnya.

  • Bos saya tidak suka mendengarkan.
  • Bos saya tidak suka pendapat dan idenya ditentang.
  • Bos saya tidak menindaklanjuti/tidak menepati janji.
  • Bos saya memberikan tenggat waktu tanpa mempertimbangkan beban pekerjaan saya saat itu.
  • Bos saya tidak punya waktu untuk saya (memberi pelatihan, briefing, atau motivasi).
  • Bos saya tidak memberikan umpan balik bermanfaat tentang kinerja saya.
  • Bos saya tidak terorganisir dan reaktif.

 

Seperti dituturkan oleh Dr. Randall S. Hansen dalam artikelnya yang berjudul Dealing with a Bad Boss: Strategies for Coping, ketika dia bekerja sebagai manajer pemasaran di People Magazine, dia memiliki atasan yang membuat semua karyawannya stres. 

Dia biasa mengawasi setiap hari untuk memastikan tidak ada karyawan yang pulang sebelum pukul 5, memberikan tugas yang banyak lalu mulai me-micro-manage habis-habisan, tampak senang merecoki urusan semua orang, dan jarang memberikan performance review atau umpan balik yang baikkecuali dalam hal-hal yang mencerminkan kinerjanya sendiri. Oleh karena itu organisasi menyebutnya dengan nama Napoleon Pete. Secara keseluruhan, dia membuat semua orang di departemen gila, dan sedikit demi sedikit karyawan di departemen itupun mengundurkan diri.

Dari cerita di atas, pelajaran pentingnya adalah seorang atasan penting memiliki keterampilan yang hebat untuk men-supervisi timnya. Keterampilan pengawasan merupakan faktor integral dalam seberapa baik seorang manajer berhubungan dengan karyawannya. Jika kesalahpahaman, keterlambatan, ketidakhadiran, tenggat waktu yang terlewati atau hasil pekerjaan yang buruk sering terjadi, maka mungkin sudah saatnya untuk menilai kembali seberapa baik kita berhubungan dengan karyawan yang jadi anak buah kita.

Tak hanya itu, kita juga perlu mengubah fokus untuk meningkatkan keterampilan sebagai supervisor atau atasan, sehingga karyawan dapat menjadi produktif dan merasa positif tentang pengalaman kerja mereka bersama kita.

 

Bagaimana Cara Meningkatkan Kemampuan Sebagai Atasan?

Atasan yang efektif diperlukan di perusahaan manapun, di mana karyawan membutuhkan bimbingan dan pengawasan untuk menyelesaikan tugas, melayani pelanggan, dan memenuhi tenggat waktu. Seorang supervisor yang terampil adalah seorang komunikator yang efektif, pemecah masalah dan motivator karyawan.

 

1) Pahami Kekurangan dan Kelebihan Kita

Karena itu, untuk menjadi penyelia alias supervisor yang hebat, kita harus terlebih dahulu mengetahui kekuatan kita. Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri ini adalah tentang mengekspresikan kepribadian terbaik kita. Untuk mengekspresikan yang terbaik dari diri kita dalam kehidupan dan pekerjaan, kita harus mengidentifikasi dan mengaplikasikan kelebihan yang kita miliki.

Memahami kekuatan kelemahan dapat membantu kita menstabilkan kehidupan pribadi dan memelihara interaksi profesional kiri. Pengetahuan tentang diri sendiri adalah alat yang ampuh dalam pengembangan pribadi.

 

2) Pahami Kelemahan Bawahan Kita

Kedua, pahami kelemahan bawahan kita. Mengetahui kelemahan orang adalah atribut utama dalam mengelola orang. Sangat penting sebagai supervisor untuk mencapai keseimbangan antara over-managing dan under-managing

Mengamati karyawan kita seperti elang mengamati mangsa, melakukan micro-manage, dapat membuat mereka merasa tertekan dan kurang produktif. Sementara itu, kurangnya informasi, briefing atau nasihat dapat membuat mereka merasa tidak mampu melakukan pekerjaan dengan baik.

 

3) Tawarkan Dukungan Kepada Bawahan

Ketiga, tawarkan dukungan kepada karyawan. Bantulah bawahan kita untuk mengelola beban kerja dan memberi mereka informasi konkret, tetapi kemudian biarkan mereka melakukan pekerjaan dengan sikap saling percaya. 

Dalam upaya kita untuk meningkatkan dukungan yang kita berikan, tanggaplah dengan panggilan telepon dan email sehingga mereka tahu mereka dapat mengandalkan diri kita sebagai atasan.

 

4) Jadilah Referensi dan Panutan bagi Karyawan

Terakhir, jadilah sumber daya dan pilar bagi bawahan kita. Banyak bawahan ingin kita menjadi referensi dan panutan bagi mereka. Banyak bawahan menginginkan seorang Manajer yang kompeten dan yang akan menunjukkan jalan kepada mereka melalui pekerjaan mereka. 

Berikan contoh yang baik. Manfaatkan pelatihan yang Anda tawarkan kepada karyawan Anda, dan hadiri lokakarya yang diarahkan untuk keterampilan sosial tingkat manajemen. Saat karyawan kita melihat cara kita berinteraksi dengan publik, mereka akan mulai meniru kita.

 

Menjadi bos yang hebat berarti membuat karyawan kita bahagia. Sisanya adalah hiasan saja. Mempertahankan kebahagiaan mereka tidak hanya penting untuk meningkatkan moral dan etos kerjahal ini juga penting bagi hasil pekerjaan kita. 

Karyawan yang bahagia menghasilkan lingkungan kerja yang lebih produktif, pelanggan yang lebih puas, dan lebih sedikit kesalahan di tempat kerja. Jadi, tingkatkan keterampilan sebagai atasan, mulai saat ini juga!

Sumber: Artikel “Improving your supervisory skills” di News24.com

 

PQM Consultants menyelenggarakan workshop Supervisory Management pada tanggal 8-10 Oktober 2019 dalam bentuk Public Training, informasi lebih lengkap dapat Anda simak di sini.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *