Coaching Skill: Mental Dasar Seorang Coach

Dalam program konsultansi 5R di salah satu klien, PQM bersama dengan top management sepakat, 5R sulit berjalan sustain tanpa keterlibatan para middle management sebagai Coach bagi tim shopfloor-nya. Oleh karena itu, selama program 5R berjalan, PQM selain membekali teknis melakukan 5R, juga membekali para middle management mengenai basic coaching skill, agar mereka dapat berperan layaknya seorang coach yang membimbing dan melatih tim shopfloor untuk mengimplementasikan program 5R. Tahapan awal dari pembekalan basic coaching skill yaitu pemahaman mengenai mental seperti apa yang perlu dimiliki seorang coach. Mental tersebutlah yang saya jadikan topik artikel ini.

MENTAL #1: Kerendahan hati

Saya memulai pembekalan dengan menanyakan, apakah ada peserta yang tahu siapa orang-orang di dalam gambar ini? Hampir semua peserta dapat menjawab, Muhammad Ali. Sangat wajar, siapa yang tidak kenal dengan Muhammad Ali, petinju dunia yang mengklaim dirinya, ‘The greatest Ali’. Saya kemudian bertanya, siapakah orang yang sedang membalut tangannya. Para peserta menjawab: pelatihnya Ali, namun tidak seorang pun yang dapat menyebutkan namanya. Pelatih tersebut bernama Angelo Dundee yaitu sosok hebat yang ada di belakang beberapa petinju berprestasi seperti Ali, George Foreman, dan yang lainnya.

Bagaimana dengan Sir Alex Ferguson? Hampir semua fans MU dan pecinta bola lainnya kenal dengan Sir Alex. Tetapi, siapakah yang lebih berdaya jual untuk dijadikan bintang iklan berbagai produk, David Beckham ataukah Sir Alex? Kalau kita ingat Beckham membintangi berbagai produk kelas dunia, seperti adidas, brylcreem, dsb. Apabila Manchester United menang, yang dielu-elukan adalah striker, pemain tengah, pemain belakangnya, keepernya, sedangkan sang pelatih cukup tersenyum dan mengepalkan tangan dengan raut bangga dari pinggir lapangan bahwa sang tim asuhan berhasil memenangkan pertandingan.

Bagaimana dengan fenomena ini? Masih ingat Rahmad Darmawan, mantan pelatih timnas (U-23), yang akrab dengan panggilan Coach RD. Saat timnas U-23 kalah di final seagames melawan Malaysia, Coach RD mengatakan bahwa dialah yang pantas di salahkan, bukannya, mereka bermain di bawah arahannya.

Belajar dari fenomena tersebut dapat kita simpulkan, pelatih umumnya kalah terkenal dan kalah dipuja dibanding orang/tim yang dilatihnya. Apabila timnya menang, sang pelatih akan melihat tim atau anak asuhannya yang dielu-elukan, bergelimang lampu blitz, dan popularitas lainnya. Sedangkan apabila timnya kalah, maka yang akan jadi sasaran tembak kegagalan dan kekalahan adalah pelatih. Apabila seseorang bersedia menjadi coach, maka dia telah membeli tiket bagi dirinya untuk hidup dalam posisi tersebut dan diperlukan kerendahan dan kebesaran hati yang luar biasa untuk dapat bertahan menghadapi tekanan di posisi tersebut.

MENTAL #2: Tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanya coach yang belum paham bagaimana mendidik muridnya.

Ada yang ingat film Kungfu Panda? Bagaimana semua pihak meragukan panda yang berbadan besar, tidak lentur, tidak paham apapun mengenai kungfu, namun terpilih menjadi dragon warriors. Saat itu, pelatih yang ditugaskan untuk mendidik, yaitu Shifu sempat stress berat karena yakin bahwa panda tidak akan bisa menguasai kungfu sama sekali. Untungnya Shifu mendapat pengarahan dari Master Oogway, mari kita lihat dalam dialog ini:

Oogway: “Ah, yes. But no matter what you do, that seed will grow to be a peach tree. You may wish for an apple or an orange, but you will get a peach”.

Shifu: “But a peach cannot defeat Tai Lung!”

Oogway: “Maybe it can, if you are willing to guide, to nurture it, to believe in it”.

Shifu: “But how? How? I need your help, master”.

Oogway: “No, you just need to believe. Promise me, Shifu, promise me you will believe”.

Setelah Shifu membuka hatinya untuk percaya pada si Panda, akhirnya Shifu mendapat cara bagaimana melatih Panda yaitu menggunakan sesuatu yang paling memotivasi panda, makanan. Kemudian Shifu mencoba teknik baru melatih kungfu untuk siPanda, yaitu menggunakan makanan dan panda dapat menguasai kungfu lalu mengalahkan musuhnya.

Dari adegan tersebut dapat dipelajari bahwa mental seorang coach adalah seperti layaknya seorang yang menumbuhkan benih yaitu guiding, nurturing, believing.

Untuk poin terakhir: believing, saya ingin menekankan bahwa seorang coach perlu meyakininya kalau tidak ada murid yang bodoh / tidak mampu. Yang ada hanyalah seorang coach yang belum cukup tajam melihat potensi dari muridnya dan mencari cara bagaimana mengembangkan potensi tersebut.

MENTAL # 3: Tega untuk kebaikan

Disaat sesi istirahat pertandingan Muhammad Ali melawan Joe Frazier, Ali terus-menerus mengeluh kepada pelatihnya, Angelo Dundee: karena pelatihnyalah hidup ali seperti neraka, betapa sulitnya pertandingan yang dihadapi, betapa kecilnya kemungkinan Ali menang melawan Joe. Angelo bertahan untuk tidak terbawa mengikuti keluhan Ali. Dia hanya mengatakan, “you’ve been doing good”. Dan di saat yang tepat, Angelo mengatakan, “it is your turn”. Ali pun member pukulan telak untuk Joe dan Ali menjadi juara yang mengubah keseluruhan hidupnya.

Dari fenomena tersebut kita belajar, mental pelatih perlu tegas bertahan menghadapi rengekan muridnya, dengan berfokus pada tujuan yang diraih. Disini perlu ketegasan dan firmness dari sikap seorang pelatih.

Saya rasa kisah-kisah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para middle management mengenai filosofi dasar menjadi seorang coach. Model mental seperti ini apabila sudah dimiliki maka akan luas implementasinya yaitu dapat digunakan dalam melatih tim shopfloor-nya untuk program 5R, QCC, maupun program improvement lainnya. Apakah anda siap menjadi seorang coach?

 

PQM Consultants menyelenggarakan workshop Train the Trainer pada tanggal 14-15 Agustus dan 5-6 September 2019 dalam bentuk Public Training, informasi lebih lengkap dapat Anda simak di sini

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *