Etika yang Perlu Diketahui Turis saat Jalan-Jalan ke Jepang

Selama perjalanan ke Jepang, kami mempelajari banyak kebiasaan dan budaya orang Jepang yang sangat berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia. Mengetahui etika dan kebiasaan masyarakat Jepang ternyata sangat membantu saat jalan-jalan ke Negeri Sakura. Apa saja etika di Jepang yang perlu diketahui turis? Melalui catatan perjalanan ini, PQM memberi contekan berharga buat sahabat Improve!

 

Selasa, 12 Februari 2019. Setelah satu setengah jam transit di Thailand, pesawat Thai Airways yang saya tumpangi akhirnya mendarat juga di Chubu Centrair International Airport, Nagoya. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Jepang. Kali ini dalam rangka mengikuti pelatihan TPM yang diselenggarakan sebuah organisasi pengembangan
sumber daya manusia untuk negara berkembang di Jepang. Tapi bukan pelatihannya yang akan saya bahas kali ini. Selain “mempelajari budaya kerja” ala Jepang, perjalanan kali ini saya gunakan juga untuk “mempelajari budaya
negara ini” dan mengunjungi berbagai tempat menarik di Jepang.

Tak hanya Nagoya yang jadi sasaran eksplorasi kali ini, tapi saya juga meluangkan waktu untuk menjelajahi Tokyo dan melihat cara hidup masyarakatnya. Dari perjalanan tersebut, ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan, terutama mengenai budaya setempat yang tentunya berbeda dengan yang kita temukan di Indonesia.

Jika sahabat Improve berencana untuk mengunjungi Jepang, ada baiknya sahabat mengetahui beberapa etika penting yang perlu diperhatikan selama kita berada di sana. Memang, sebagai turis, kita tak dituntut untuk memahami secara total. Tapi setidaknya, mengetahui beberapa clue terkait etika dan kebiasaaan orang-orang Jepang tentu akan berguna.

Etika Ketika Bertemu Orang Lain

Mengucapkan salam. Orang Jepang mengekspresikan sopan santun dengan mengucapkan salam, atau Asiatsu, ketika bertemu. Salam dipandang penting untuk segala situasi, baik antara rekan kerja, orang asing ataupun teman dan kerabat sendiri. Sapaan “konnichiwa!” yang berarti “halo” akan biasa terdengar ketika sahabat Improve berada di Jepang. Sapaan tersebut juga umum digunakan untuk menyapa orang yang belum dikenal sebelumnya.

 

Menjabat tangan versus membungkukkan badan. Jabat tangan adalah hal yang tak biasa dilakukan di Jepang, karena mereka biasanya tak akan menyentuh orang yang baru dikenal. Sebagai gantinya, orang Jepang biasanya membungkukkan badan. Jabat tangan hanya dilakukan antara orang-orang yang sudah saling kenal baik.

Etika Ketika Makan

Menggigit makanan dan menaruhnya kembali. Jangan lakukan ini di Jepang. Menggigit makanan lalu menaruhnya kembali di piring mungkin umum dilakukan di Indonesia atau negara-negara Barat, tapi tidak di Jepang. Umumnya, orang Jepang menyajikan makanan yang bisa dimakan dalam sekali lahap, sehingga tak perlu digigit. Namun jika makanan terlalu besar, sahabat bisa memotongnya dengan garpu atau pisau. Jika sedang mengunyah makanan dalam potongan besar, menutup mulut adalah tata krama yang berlaku di Jepang.

 

Mencampur wasabi dengan kecap asin. Ini adalah praktik yang lazim di Indonesia, tapi orang Jepang tidak mencampur wasabi dengan kecap asin saat makan sushi atau sashimi. Bukannya tabu, tapi melakukan hal itu akan dipandang aneh oleh orang Jepang. Cara makan yang benar adalah, ambil sedikit wasabi dengan sumpit, oleskan di atas sushi atau sashimi, baru kemudian celupkan sushi atau sashimi di kecap asin.

 

Jangan memberi uang tip. Masyarakat Jepang menghargai profesionalisme dan pelayanan yang baik dengan harga mahal, dan segala bentuk pelayanan pelanggan akan mereka lakukan dengan profesional. Memberi uang tip kepada pelayan atau staf akan menimbulkan situasi yang aneh, seakan kita menilai kinerja mereka dengan uang “recehan.” Mungkin niatnya baik, tapi ini dianggap tidak etis. Tak jarang pekerja di Jepang langsung menolak ketika diberi uang tip.

 

Etika di Tempat Umum
Jangan memberikan tempat duduk di kendaraan umum. Di banyak negara di dunia, memberikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan di kendaraan umum dipandang sebagai bentuk sopan santun. Ternyata tidak demikian di Jepang. Ketika kendaraan penuh, orang Jepang tidak memberikan tempat duduk kepada orang lain
sebagai cara untuk menghormati sesama pengguna kendaraan umum. Jika sahabat memberikan tempat duduk, orang Jepang akan merasa tidak enak atau bahkan tidak dihormati.
Hal ini juga berlaku untuk tempat duduk prioritas, yang disediakan bagi orang yang membutuhkan. Orang Jepang akan merasa tak enak dan akan menolak jika seseorang bangun dan menyerahkan tempat duduknya. Namun jika sahabat ingin melakukannya—misalnya untuk orang yang sudah sepuh atau ibu hamil—berpura-puralah keluar kereta sehingga mereka tak segan untuk menduduki kursi Anda.

 

Mengambil foto orang lain. Mengambil foto tanpa izin dengan mengarahkan kamera langsung ke wajah tentu tak sopan. Tapi mengambil foto secara diam-diam atau candid tanpa diketahui orang yang bersangkutan umumnya tak jadi masalah jika fotonya tak digunakan untuk hal yang aneh-aneh. Namun jika sahabat ingin mengambil foto—misalnya wanita-wanita Jepang yang memakai pakaian tradisional, atau anak-anak muda yang sedang cosplay—meminta izin adalah cara paling aman.

 

Mengambil foto di pusat perbelanjaan atau restoran. Mengambil foto di supermarket dan pusat perbelanjaan sepenuhnya dilarang, walaupun hanya sebagai dokumentasi pribadi. Namun mengambil foto di restoran diperbolehkan, dalam batas tertentu yang tidak berlebihan dan tidak mengganggu privasi orang lain. Untuk area publik yang ramai dan di tempat-tempat wisata tertentu, penggunaan tripod seringkali dilarang.

 

Persiapan Sebelum Pergi ke Jepang
Unduh Aplikasi Mobile untuk Atasi Kendala Bahasa
Seperti halnya di Korea, sahabat Improve mungkin jarang bisa menemukan orang yang memahami Bahasa Inggris di Jepang. Memang kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto atau Osaka lebih terbuka kepada turis, dan memiliki banyak tanda, marka dan petugas yang bisa berbahasa Inggris. Namun selain itu, sahabat mungkin harus lebih banyak menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi.

Selama di Jepang, sahabat bisa memanfaatkan mobile app untuk membantu mencari informasi. Gunakan aplikasi seperti Hyperdia App atau Japan Travel untuk membantu sahabat mencari informasi jadwal kereta, rute terpendek, tarif komuter, peta, hingga waktu keberangkatan.

Cari Tahu Kebiasaan Orang Jepang
Culture shock sering terjadi pada turis, walaupun destinasinya sama-sama negara Asia. Ada baiknya sahabat cari tahu dulu mengenai kebiasaan orang Jepang, aturan umum di public space, dan tips-tips untuk turis, karena orang Jepang sangat taat peraturan. Beberapa pelanggaran seperti memotong antrian, menyeberang jalan saat lampu
merah, hingga membuang sampah sembarangan bisa menyebabkan masalah.

 

Pilih Waktu Berkunjung yang Tepat
Kita tentu ingin memiliki momen terbaik saat berkunjung ke negara lain. Untuk memilih waktu kunjungan terbaik ke Jepang, sahabat Improve bisa memikirkan, apa yang diincar dari kunjungan ke Jepang. Sebagai clue, waktu musim gugur dan musim dingin adalah waktu favorit turis yang datang ke Jepang.
Musim gugur dan musim semi di Jepang tak hanya menyajikan pemandangan indah, tapi juga cuaca yang bersahabat. Udaranya tak terlalu dingin, dan tak terlalu panas. Jika sedang musim semi, Jepang seperti mempercantik diri. Bunga-bunga sakura bertebaran di mana-mana, bahkan di jalanan kota seperti Tokyo, Kyoto dan Osaka. Pemandangan musim gugur yang serba menguning pun tak kalah cantinya.

Namun jika sahabat Improve memang ingin melihat salju, sahabat bisa berkunjung saat musim dingin. Walaupun cuaca sangat dingin, keuntungannya adalah wisata di musim dingin bisa jauh lebih murah. Di musim dingin, biasanya harga tiket pulang pergi Indonesia-Jepang turun di kisaran 4 hingga 7 juta. Sedangkan di musim semi atau
musim gugur, harga tiket berada di kisaran 5 hingga 9 jutaan. Itu dia sedikit oleh-oleh saya dari perjalanan ke Jepang tahun ini. Semoga bermanfaat untuk sahabat yang juga punya rencana jalan-jalan ke Negeri Sakura ya!

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *