Focus Group sebagai Training Needs Analysis

Training Needs Analysis (TNA) digunakan untuk menilai kebutuhan pelatihan organisasi. Akar TNA adalah analisis kesenjangan. Ini merupakan penilaian terhadap kesenjangan antara kompetensi orang-orang di dalam perusahaan pada saat ini dengan kompetensi yang dituntut atau dipersyaratkan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. TNA membantu organisasi untuk mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan sehingga program pelatihan yang akan direncanakan dalam organisasi menjadi lebih terarah dengan kompetensi yang dibutuhkan. TNA dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan di tingkat perusahaan, proyek atau departemen atau karyawan tertentu.

 

Metode Wawancara Kelompok (Focus Group)

Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan mulai dari performance appraisal, survei, wawancara, focus group hingga metode observasi. Masing-masing metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Misalnya antara survei dan wawancara perorangan. Metode survei dianggap lebih murah karena dapat menjangkau banyak orang dibandingkan dengan wawancara perorangan. Namun metode survei mengandun kelemahan karena pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada responden dapat diartikan berbeda-beda.

Beberapa tahun terakhir ini, praktisi di bidang pelatihan banyak menggunakan metode focus group sebagai alat untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan. Focus group ini adalah metode wawancara kelompok. Kelebihannya metode ini adalah kita dapat melihat reaksi peserta lain terhadap pendapat orang lain tentang suatu topik diskusi. Topik yang didiskusikan dapat lebih luas dan mendalam. Metode ini dapat digunakan untuk menggali informasi tentang topik bersifat abstrak seperti masalah budaya dan kepuasan pelanggan.

 

Berikut adalah proses bagaimana melakukan Focus Group:

  1. Tetapkan topik wawancara kelompok, peserta, dan jadwal.
  2. Siapkan pertanyaan-pertanyaan untuk peserta sesuai topik wawancara kelompok.
  3. Siapkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam bentuk tertulis untuk dibagikan kepada para peserta.
  4. Undang peserta sesuai dengan jadwal.
  5. Sebelum memulai wawancara kelompok, fasilitator perlu memastikan bahwa peserta sudah saling mengenal, merasa nyaman dan aman serta memahami tujuan wawancara kelompok
  6. Berikan daftar pertanyaan kepada peserta dan minta mereka untuk mengisinya secara perorangan terlebih dahulu.
  7. Ajukan pertanyaan pertama kepada peserta. Pastikan bahwa anda paham dengan apa yang disampaikan oleh peserta. Lakukan klarifikasi, pendalaman dan penggalian contoh. Dorong peserta untuk berbagi kesamaan di antara mereka.
  8. Fasilitasi peserta agar memberikan pendapat, tanggapan peserta terhadap pertanyaan-pertanyaan.
  9. Buatlah kesimpulan tentang tema-tema yang sama dan gagasan-gagasan yang didapatkan selama diskusi dan wawancara kelompok.
  10. Beri informasi kepada peserta tentang rencana pelaksanaannya.

 

Kesimpulan wawancara kelompok ini dapat digunakan untuk menetapkan kesenjangan antara kebutuhan pelatihan. Ada juga praktisi di bidang pelatihan yang menggunakan metode ini untuk mengetahui informasi tentang metode-metode pelatihan yang disukai oleh peserta. TNA yang benar akan menghilangkan banyak kemubaziran dalam pelatihan. Ini merupakan suatu proses penting dalam sistem pengelolaan pelatihan suatu perusahaan. Saat ini makin banyak perusahaan menyakini pelatihan sebagai suatu kegiatan investasi kemajuan perusahaan. Tanpa TNA yang benar maka biaya pelatihan tetap menjadi biaya, bukan investasi. Wawancara kelompok merupakan salah satu metode untuk mengidentifikasi apa yang lebih dapat diandalkan karena metode ini mencakup kedalaman dan keluasan dari suatu topik. Selamat mencoba.

 

PQM Consultants menyelenggarakan workshop Effective Training Management pada tanggal 18-19 September 2019 dalam bentuk Public Training, informasi lebih lengkap dapat Anda simak di sini.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *