Kecerdasan Buatan: Jaminan Masa Depan Perusahaan Manufaktur?

Kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) sudah dinobatkan sebagai teknologi transformatif abad ini. Kecepatan AI untuk meningkatkan operasi manufaktur dan tentunya produktivitas membuat industri harus memilih antara dua opsi: Mengadopsi AI atau tertinggal dari kompetitor.

 

Lalu apa yang sebenarnya dimaksud dengan implementasi kecerdasan buatan (AI) dalam proses manufaktur? Bagaimana AI dapat membantu meningkatkan produktivitas? Benarkah AI akan menyebabkan banyak pengangguran? Dan apakah AI hanya merupakan tren sesaat, atau memang ‘penentu nasib’ industri manufaktur di masa depan?

Implementasi AI adalah tentang menggunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah dan meningkatkan produktivitas. Hampir semua sektor industri dapat menggunakan AI dengan satu atau lain cara. Industri manufaktur memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memenuhi tujuan produktivitas.

Kecerdasan buatan sendiri adalah segala hal tentang pengembangan sistem komputer untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Melalui implementasi AI, perusahaan dapat memenuhi tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh manusia.

Ada banyak perdebatan tentang menggantikan kecerdasan dan tenaga manusia dengan AI, namun tidak dapat disangkal bahwa penggunaan AI memang meningkatkan produktivitas, terutama di bidang manufaktur.

 

Benarkah AI akan menggantikan tenaga manusia?

Ide mengenai implementasi AI pada industri manufaktur hampir selalu dikaitkan dengan kekhawatiran tentang penggantian pekerja manusia dengan mesin. Akibatnya, pekerja pun gelisah bahwa mesin suatu saat dapat membuat mereka dirumahkan. Namun menurut McKinsey, sementara 51 persen pekerjaan manufaktur dapat diotomatisasi, hanya 5 persen pekerjaan manusia yang dapat diotomatisasi.

Tak semua pekerjaan akan sesuai dengan kecerdasan buatan, tetapi pikiran dan tenaga manusia akan selalu diperlukan untuk melakukan banyak pekerjaan.

Kombinasi bakat manusia dan teknologi saat ini mengoptimalkan alur kerja, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan laba. Tapi satu tanpa yang lain? Kemungkinan berhasilnya akan jauh lebih kecil.

 

Seperti apa implementasi AI pada manufaktur?

Sebelum membahas bagaimana cara AI dapat meningkatkan produktivitas, ada baiknya kita telaah dulu apa yang dimaksud dengan kecerdasan buatan dan bagaimana implementasinya, khususnya dari perspektif manufaktur.

Menurut penjelasan pakar kecerdasan buatan Steve Smith, AI dapat menghasilkan output dengan kualitas sebagusatau bahkan lebih bagusdaripada manusia. Implementasinya sering melibatkan unsur otomatisasi. Machine Learning adalah bagian dari AI, di mana komputer membedakan pola-pola kerja yang menunjukkan kinerja yang dihasilkan.

Misalnya, implementasi AI pada industri manufaktursalah satunyamelibatkan pengidentifikasian aspek tugas mana yang memengaruhi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi output. Data dikumpulkan dari sensor atau perangkat lain yang terhubung, atau dikenal sebagai IoTInternet of Things.

Di bidang manufaktur, Smith menegaskan bahwa teknologi ini tidak menggantikan pekerja manusia, tetapi menawarkan kesempatan untuk mengoptimalkan proses dan menggunakan data. Tak hanya itu, AI juga membantu perusahaan manufaktur memprediksi masalah di masa depan, membuat karyawan tak perlu menangani masalah pelik di kemudian hari.

AI membantu perusahaan manufaktur memelihara sistem terpadu, dimana berbagai area produksi, seperti rantai pasokan, desain, lini produksi, dan kontrol kualitas, saling terkait. Dampak yang satu area produksi berikan pada area yang lain telah ditentukan sebelumnya melalui kecerdasan buatan untuk menghindari kesalahan dan kerugian dalam produksi. Pabrik yang efisien akan mendatangkan keuntungan lebih banyak, dan juga penghematan, jika diatur dengan memadukan mesin dan manusia.

 

Level baru inisiatif improvement

Cliff Justice, pakar AI yang menjadi partner KPMGyang memimpin inisiatif teknologi kognitif, kecerdasan buatan, dan investasi otomasi perusahaan tersebutmenjelaskan, AI mengubah segalanya: model bisnis, model operasional, bagaimana pekerjaan diselesaikan, bagaimana pekerja dilatih.

“AI mempersenjatai, bukan menggantikan orang-orang kita dengan mesin,” jelasnya. “Ini bukan tentang menghemat waktu, ini semua tentang meningkatkan akurasi dan kualitas di luar apa yang bisa dilakukan manusia.”

Perusahaan manufaktur seringkali sudah puas dengan peningkatan bertahap dalam hal waktu, akurasi dan kualitas. Selama Anda “terus improve,” Anda berada di jalan menuju sukses. Namun, karena AI, dalam sepuluh tahun, perubahan yang saat ini diwujudkan oleh Kaizen dan Lean Manufacturing mungkin akan terlihat biasa saja. Bahkan, menurut Justice, hal ini bisa saja terjadi tahun depan.

Contohnya, pada 2016 lalu, GE dengan yakin mengatakan bahwa platform AI-nya yang dinamai Predix dapat meningkatkan kinerja industri sebesar 1%. Namun di 2017 lalu, di pabrik-pabrik Brilliant Factories milik GE, Predix menghasilkan peningkatan yang jauh lebih besar. Di India, efektivitas peralatan dilaporkan meningkat 18%, sementara pabrik Michigan mengurangi waktu henti hingga 20% dengan menerapkan sensor IoT untuk memantau keausan.

Memang, GE berhasil mencetak awal yang baik dan hanya sedikit yang bisa menyamakan kecepatan ini, tetapi banyak perusahaan sama sekali belum mulai merangkul AI untuk mendapatkan manfaatnya.

Menurut survei CIO Agenda Survey yang diadakan Gartner, hanya 4% dari chief information officer (CIO) di dunia yang telah mengimplementasikan AI, sementara 46% baru merencanakannya.

Kecerdasan buatan dan machine learning di bidang manufaktur mencapai tingkat adopsi yang lebih luas, untuk alasan yang masuk akal. McKinsey memperkirakan bahwa ‘pabrik pintar’ akan meningkatkan nilai perusahaan sebesar $37 triliun pada tahun 2025. Hal ini akhirnya mendorong diadakannya berbagai proyek penelitian seperti Reboot Finland IoT Factory, yang melibatkan organisasi yang beragam seperti Nokia dan GE Healthcare.

Lalu seperti apa tepatnya keuntungan langsung dari adopsi AI di perusahaan manufaktur? Lini apa saja yang akan mendapatkan keuntungan? Simak terus rangkaian artikel dari PQM tentang implementasi kecerdasan buatan di perusahaan manufaktur!

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *