Managing Training Functions – Kembali ke Hal-hal Fundamental

Pembahasan mengenai perlunya transformasi fungsi training akan selalu muncul. Tentunya hal ini ada sebabnya. Banyak leader di bidang training mencari cara untuk meningkatkan fungsi training supaya lebih ekonomis dan efektif. Banyak diskusi berfokus pada transformasi digital dan bagaimana menggunakan teknologi secara lebih efektif. Tapi saya yakin kita tak cukup banyak membahas kemana seharusnya transformasi fungsi training tersebut mengarah. Apakah kita sudah mengelola fungsi training dengan tepat dan bagaimana semestinya kita bersikap? Ini adalah hal-hal dasar, atau apa yang suka saya sebut sebagai pondasi dalam mengelola fungsi training.

 

Jangan harap teknologi akan menjadi solusi jika proses dasarnya saja tidak kokoh.

Dalam Industri training, kita mempelajari praktek-praktek yang dilakukan organisasi training yang sudah maju untuk memahami organisasi apa saja dan mengapa mereka mencapai hasil yang lebih baik dibanding organisasi lainnya. Kami simpulkan bahwa organisasi training yang bagus ternyata fokus pada dasar manajemen training: strategic alignment, pengembangan konten, penyampaian materi, administrasi, pemanfaatan teknologi, manajemen portofolio, pembuatan laporan, dan diagnostik. Dari banyak obrolan saya dengan leaders di bidang training function yang tidak perform dengan baik, banyak di antara mereka yang percaya bahwa mereka sudah fokus pada kapabilitas yang sama.

Jadi apa yang membuat beberapa organisasi performanya lebih unggul dibanding organisasi lain? Dimulai dari kepemimpinan. Seorang manajer organisasi training yang baik mempraktekkan dasar-dasar manajemen dan paham mereka tak selalu harus jadi “kutu loncat” setiap kali muncul trend baru dalam industri. Trend banyak menginformasikan pada kita ke arah mana industri bergerak, namun trend tak selalu cocok dengan organisasi tersebut. Dari tempat saya duduk, memimpin organisasi training yang high-performing lebih soal bertahan pada hal-hal yang dasar — prinsip-prinsip manajemen training dan pembelajaran yang tak akan pernah usang.

Berikut ini adalah tujuh pondasi dalam membantu leaders di dunia pembelajaran untuk mencapai hasil yang hebat:

  • Fokus pada performa. Training merupakan suatu upaya bagaimana mengelola performa, bukan kegiatan di kelas maupun manajemen event. Fokus organisasi training ialah membantu bisnis dan individu di dalam bisnis untuk dapat perform lebih baik. Tanggung jawab kita pada peserta belajar tidak berakhir sampai pelatihan selesai. Namun baru berakhir ketika seorang individu dapat mencapai level performa yang ditargetkan.
  • Mendesain solusi training yang spesifik untuk suatu pekerjaan atau tugas tertentu – bukan mendesain topik. Training adalah tentang bagaimana membantu peserta dalam menjalankan tugas atau rolenya, bukan menyampaikan informasi pada mereka. Memang benar, kursus yang informatif membantu kita memahami apa yang harus kita lakukan, tapi training yang kita berikan harus mengajarkan peserta bagaimana melakukan suatu pekerjaan, bukan hanya menunjukkan seperti apa pekerjaan yang dilakukan dengan baik.
  • Melakukan proses yang baik. Proses yang baik akan menghasilkan sikap yang baik. Organisasi training yang high-performing adalah buah dari gabungan berbagai proses. Jika proses training Anda didesain dan dikelola dengan baik, maka mereka yang melaksanakan proses pelatihan akan mendapatkan pengalaman pelatihan yang lebih baik.
  • Peningkatan performa memerlukan waktu. Training bukanlah kegiatan sehari. Ebbinghaus mengajarkan kita bahwa training terbaik terjadi jika dilaksanakan dalam periode waktu yang panjang (untuk spacing effect), bukan saat kita mengkonsumsi banyak informasi sekaligus dalam satu kali pertemuan. Solusi training yang efektif menggabungkan keseluruhan aspek pembelajaran – mulai dari pengenalan organisasi, training formal, penyegaran, dan evaluasi.
  • Desain kegiatan praktek menjadi rutinitas pekerjaan sehari-hari. Rasanya masuk akal jika cara terbaik untuk belajar ialah dengan melakukannya langsung. Praktek berarti melakukan dan harus disengaja. Desain kegiatan praktek sebagai pengalaman belajar, termasuk juga on-the-job routines. Buat praktek sebagai rutinitas kegiatan improvement yang terus berlangsung.
  • Reinforce good behavior. Performance improvement yang terus berlangsung dicapai dengan reinforcement sikap yang baik dan best practice. Reinforcement harus menjadi kegiatan yang terus berlangsung, bisa melalui akses pada informasi yang tepat pada waktunya atau memberi pengingat apa saja yang diharapkan dan dibutuhkan dalam suatu pekerjaan.
  • Teknologi sebagai enabler. Tools dan teknologi pembelajaran bukanlah solusi dalam penyelesaian masalah, kedua hal ini hanyalah enabler yang membantu kita melakukan kegiatan-kegiatan dasar secara efektif dan lebih efisien. Gunakan teknologi untuk membantu pengalaman belajar, namun jangan harap hal ini dapat menjadi solusi ketika proses dasar yang kita lakukan tidak cukup kokoh.

Doug Harward

Sumber: trainingindustry.com

 

PQM Consultants akan menyelenggarakan pelatihan Effective Training Management yang akan dilaksanakan pada 14-15 Agustus 2019. Kunjungi website kami untuk informasi dan pendaftaran. Klik Di Sini

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *