Memahami Risiko Sebagai Peluang Di Masa Depan

Pada era disrupsi dan digitalisasi saat ini, perusahaan-perusahaan saling berlomba untuk dapat bertahan atau bahkan menghasilkan gebrakan agar tidak menjadi tertinggal. Tidak sedikit perusahaan yang dahulunya berjaya, kini harus setengah mati untuk menyambung nafas perusahaan. Sehingga sustainability atau ketahanan dalam menghadapi arus global menjadi kunci penting.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk memastikan perusahaan atau organisasi itu sustain adalah melalui manajemen risiko yang baik. Sudah ada perusahaan yang menerapkan manajemen risiko baik secara sistematis maupun dalam praktiknya. Akan tetapi belum semua penerapan tersebut tepat sasaran, banyak risiko yang tidak bisa diantisipasi dan diatasi dengan cara yang tepat. Selain itu manajemen risiko belum sepenuhnya diilhami. Bahkan mendengar kata ‘risiko’ saja banyak individu yang masih skeptis.

Risiko sering dikonotasikan sebagai hal yang negatif dan harus dihindari agar tidak terkena dampak dari risiko. Walau sebenarnya dalam setiap lini kehidupan pasti ada risiko. Bahkan saat menulis artikel ini pun ada risikonya mulai dari salah ketik atau bahkan tulisan yang telah dirangkai hilang. Terkadang risiko memang mengkhawatirkan, akan tetapi mari kita coba melihat risiko dengan sudut pandang yang berbeda.

Mari kita mulai sudut pandang tersebut dengan mindset bahwa risiko adalah opportunity for improvement atau peluang untuk melakukan perbaikan. Bagaimana bisa? Pada dasarnya risiko mengandung dua unsur utama yaitu kemungkinan terjadinya risiko (probability) dan dampak yang ditimbulkan apabila risiko tersebut terjadi (impact). Risiko merupakan perkawinan antara kedua unsur tersebut dan cara mengelola risiko dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Secara garis besar ada tiga tahapan utama yang sangat praktikal untuk manajemen risiko.

Tahap 1: Identifikasi Risiko

Permulaan yang paling penting sebelum mengelola risiko adalah untuk mengetahui terlebih dahulu risiko apa saja yang mungkin terjadi di proses atau area kerja. Mengidentifikasi risiko akan lebih mudah jika perusahaan telah dapat memetakan secara rinci bisnis prosesnya. Misalkan, risiko yang dapat terjadi untuk proses pengecatan part adalah hasil pengecatan yang tidak merata. Setiap proses dapat mengandung lebih dari satu risiko, tergantung dari kompleksitas proses tersebut.

Tahap 2: Analisa Risiko

Dari data risiko-risiko yang sudah diidentifikasi di masing-masing proses, tahap selanjutnya adalah menganalisa besar kecilnya risiko tersebut. Penentuannya dapat menggunakan metode kualitatif maupun kuantitatif. Secara praktis, metode kuantitatif didapat dengan mengalikan skala probabilitas dan skala dampak yang ada pada risiko.

Tahap 3: Evaluasi Risiko

Tahap pamungkas dalam manajemen risiko adalah evaluasi risiko tersebut. Dalam tahap ini, dapat dipilih beberapa respon terhadap risiko yang sudah dianalisa. Sama seperti hukum kekekalan energi bahwa energi tidak bisa hilang, begitu pun dengan risiko. Respon yang dapat diberikan adalah menerima risiko, mentransfer risiko, mengurangi risiko dan menghindari risiko. Action plan dalam merespon risiko dapat berupa corrective action atau preventive action. Dimana pemicu dari sustainability adalah dengan menerapkan preventive action di tahap evaluasi risiko, agar risiko yang tidak diinginkan dapat dimitigasi dengan tepat dan dikontrol dampaknya jika risiko tersebut sampai terjadi.

Dengan mengetahui potensi-potensi risiko yang ada pada, perusahaan atau organisasi juga akan menjadi lebih mawas. Yang paling penting juga dengan risiko yang ada, perusahaan mampu mengubahnya sebagai peluang-peluang untuk perbaikan agar nilai dari risiko bisa berkurang. Komitmen dan juga fungsi monitoring juga diperlukan agar manajemen risiko selalu update dan relevan dengan kondisi saat ini. Sehingga perusahaan semakin siap menghadapi tantangan dan juga perubahan yang sangat dinamis.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *