Memenangkan Hati & Loyalitas Karyawan Millennials

Jika mendengar tentang “Millennials in the Workplace,” mungkin pikiran kita akan segera melayang kepada jajaran pekerja muda yang bersemangat, penuh ambisi dan tak takut dengan improvement. Tapi bagaimana cara perusahaan meningkatkan kemampuan kompetitifnya untuk menarik dan mempertahankan para milenial dengan segudang bakat tersebut? Simak artikel yang satu ini, seperti yang dibahas pada gelaran HCD Club X Kalibrr.

Beberapa tahun lalu, pernahkah Anda terbayang bahwa berbelanja akan semudah melakukan beberapa kali klik mouse di komputer, atau beberapa kali ketukan di layar ponsel Anda? Pernahkah anda terbayang, adanya platform digital yang membuat sebagian besar proses kehidupan berubah?

Semua teknologi telah menjadikan semua urusan kita jadi serba cepat, tepat, personalized, dan mudah. Terlebih lagi, dengan adanya reward yang ditawarkan, pengguna akan kembali datang dan menggunakan platform tersebut. Tapi benarkah hanya itu saja yang membuat mereka kembali? Bagaimana dengan kompetisi?

Sama halnya dengan mempekerjakan Generasi Milenial, dengan kompetisi yang makin ketat, perusahaan perlu memikirkan cara untuk menarik dan bahkan mempertahankan mereka. Saat ini tak lagi zamannya modal nama. Generasi pembawa inovasi iniyang juga menuntut inovasi dari perusahaandikenal sebagai kelompok pekerja penumbang hegemoni raksasa-raksasa yang selama ini merasa dirinya mapan di panggung bisnis.

Siapakah Para Millennials?

Generasi Milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981-1995, seperti yang didefinisikan Badan Pusat Statistik USA (2014). Generasi ini juga dikenal sebagai Generasi Y atau Generasi Net, yakni kelompok demografis yang lahir setelah Generasi X.

Mengapa Generasi Milenial istimewa? Tak seperti generasi-generasi sebelumnya, mereka sudah tersentuh teknologi sejak masih muda. Penelitian Cisco Corporation menemukan bahwa 1/3 dari respondenyang sebagian besar adalah Milenialpercaya bahwa internet merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan.

Sebagai generasi pertama yang memiliki kemudahan akses dalam informasi, wajar jika ada perbedaan cara belajar, berkomunikasi, hingga sikap Millennial di dunia profesional. Perbedaan-perbedaan tersebut menghasilkan lebih banyak stereotype negatif yang melekat kepada Millennial dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Lalu, seperti apa tantangan yang dihadapi para HRD dalam merekrut karyawan Milenial? Bagaimana cara perusahaan agar Millennials mau dan mampu mengeluarkan potensi terbaiknya?

Millennials di Dunia Kerja

Di dunia kerja, Millennial dilabeli sebagai generasi kutu loncat. Di antara sebagian penyebabnya adalah di tahun 2010, Lynne C. Lancaster dan David Stillman mempublikasikan buku The M-Factor, atribut negatif yang menciptakan stereotype yang tidak baik mengenai Milenial di dunia kerja.

Di buku tersebut, Milenial digambarkan sebagai generasi pemalas, defensif, kurang inisiatif, tidak memiliki komitmen penuh kepada pekerjaan, kurang respek kepada atasan, kurang fokus dan mudah terdistraksi, kurang persiapan dalam bekerja, rewel, sering mengabaikan, kurang sopan santun, arogan, tidak sabar, hanya peduli dengan dirinya sendiri, dan merasa dirinya punya hak istimewa.

Memaksimalkan Potensi & Memenangkan Loyalitas Millennials

Melihat karakteristik yang berbeda pada Generasi Milenial, sebuah perusahaan konsultan dan akuntansi mengadakan penelitian mengenai karyawan Milenial. Penelitian tersebut menemukan nilai dan kebutuhan di tempat kerja berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

Namun, demi tercapainya keharmonisan di lingkungan kerja, alih-alih fokus pada perbedaan sifat dan karakter Milenial dengan generasi sebelumnya, mengapa kita tidak mengoptimalkan peran masing-masing generasi? Dengan demikian, kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif, yang jadi tujuan perusahaan.

Berikut ini beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk mengubah stereotype negatif Millennial menjadi kinerja yang positif:

  1. Menghubungkan kontribusi individu secara langsung dengan sebuah tujuan yang spesifik dari perusahaan, sehingga karyawan Millennial merasa kontribusinya penting untuk tim dan upayanya mendapatkan apresiasi.
  2. Berikan apresiasi yang resmi dari perusahaan. Ketika karyawan dari beberapa generasi memberikan apresiasi atas kontribusi karyawan Millennial, mereka akan lebih mudah untuk berkomitmen kepada perusahaan.
  3. Karyawan Millennial umumnya mencari tempat kerja yang memungkinkan kolaborasi di dalam dan di luar tim dengan hubungan dan komunikasi yang dekat. Mereka menghargai hubungan dan komunikasi tanpa batas usia dan jabatan.
  4. Manajemen senior harus memenuhi ekspektasi karyawan Millennial dengan menghargai kontribusi dari setiap level karyawan, terbuka untuk berkomunikasi dan membangun hubungan yang menurut Millennial bisa memaksimalkan kontribusi mereka kepada perusahaan.

Strategi-strategi di atas juga diamini oleh Sanuk Tandon, Managing Director Kalibrr Indonesia dalam pertemuan Human Capital and Development Club (HCD) asuhan PQM Consultants pada tanggal 7 September 2018 lalu.

Pada gelaran yang dilangsungkan di Jakarta Design Centre tersebut, dipaparkan bahwa kecenderungan Milenial dalam mencari pekerjaan adalah mereka cenderung mementingkan lingkungan kerja yang dapat menampung aspirasi mereka.

Selain itu, sebuah perusahaan juga dinilai positif di mata karyawan Millennial ketika visi dan misi perusahaan berdampak pada masyarakat luas. Ambil contoh perusahaan Go-Jek yang memecahkan permasalahan transportasi untuk memenuhi kebutuhan akan mobilitas tinggi dengan tarif yang masuk akal, juga membantu mengatasi masalah pengangguran karena membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Terbukti, Go-Jek menjadi salah satu startup Indonesia yang paling diincar calon karyawan Milenial.

Perusahaan di masa sekarang ini harus mampu membuat kandidat potensial tertarik untuk mendaftar ke perusahaan. Salah satu hal yang paling krusial adalah adanya branding, baik untuk karyawan (employee branding) ataupun perusahaan (company branding).

Penjelasan mengenai visi, misi, dan budaya perusahaansesuatu yang penting bagi calon karyawan Milenialharus selaras dari setiap proses rekrutmen agar tidak membingungkan calon karyawan dan akhirnya memberikan kesan yang negatif. Namun demikian, HRD juga harus jeli melihat kualitas seorang calon karyawan Milenial; tak hanya mempertimbangkan faktor usia dan pendidikan saja.

Untungnya, teknologi di dunia HRD juga sudah berkembang pesat, sehingga proses seleksi kandidat bisa dengan mudah dilakukan. HRD hanya perlu memproses kandidat terbaik yang memang sudah sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan.

Pertanyaannya, siapkah Anda untuk berhadapan dengan para karyawan dari Generasi Milenial?

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *