Menciptakan “Dokter Spesialis” di Industri Manufaktur

Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah tidak asing lagi dengan istilah penyakit. Seseorang akan rentan terkena penyakit jika tidak bisa menjaga kondisi tubuhnya dengan baik. Akibatnya timbulah kondisi yang akan berdampak pada penurunan produktivitas. Jika dilihat dari ranah keilmuan, dokter memiliki tugas untuk menyelesaikan masalah kesehatan pada manusia. Sedangkan dalam industri manufaktur istilah “dokter” dapat kita ibaratkan sebagai tenaga maintenance/ engineer yang kesehariannya bertugas untuk menyelesaikan masalah “kesehatan” pada mesin. Ketika mesin mengalami breakdown, tugas “dokter spesialis“ atau tenaga maintenance adalah memperbaiki mesin tersebut dan mencegah “penyakit” tersebut datang kembali.

Salah satu tantangan bagi industri manufaktur saat ini adalah perusahaan dituntut untuk menciptakan sistem preventive maintenance yang tepat sasaran dan dapat terintegrasi dengan tenaga maintenance yang disiplin serta profesional. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan sistem edukasi yang tepat dengan tujuan meningkatkan level kemampuan maintenance dari level dasar ke level profesional. Tenaga maintenance pada level skill yang tinggi akan mempermudah perusahaan untuk mewujudkan perawatan kondisi mesin yang optimal, sehingga pencapaian lot produksi akan meningkat. Dengan demikian perusahaan tersebut mampu meningkatkan efisiensi mesinnya.

Langkah awal yang perlu dilakukan untuk mengetahui kriteria level skill tenaga maintenance adalah dengan melakukan mapping berdasarkan kriteria level skill. Level kriteria yang digunakan pada perusahaan manufaktur umumnya memiliki 5 level tergantung dari karakter tiap perusahaan. Dimulai dari level terendah yaitu level 0, dimana manpower (tenaga maintenance) belum mengetahui fungsi, proses dan tujuan pekerjaannya, serta belum bisa melakukan pekerjaan tersebut. Sampai dengan pada level 4, dimana manpower sudah memahami metode dan isi standard kerja serta memiliki kemampuan melakukan edukasi ke manpower lain sesuai dengan standard kerjanya.

Langkah selanjutnya adalah membuat standar kompetensi yang detail untuk setiap kriteria level. Tahap ini merupakan tahap yang kritikal, karena setiap point kompetensi yang dibuat harus mewakili semua aspek yang dibutuhkan oleh tenaga maintenance dalam melakukan pekerjaannya. Mulai dari basic theory sampai dengan skill khusus untuk penanganan masalah di mesin. Standar kompetensi yang dibuat harus dievaluasi berkala untuk melihat akurasi kompetensi yang tepat terhadap uraian pekerjaan tenaga maintenance. Selain itu standar kompetensi harus mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di dalam proses terhadap kebutuhan skill setiap tahunnya.

Dari standar kompetensi yang sudah dibuat, langkah berikutnya adalah melakukan pre-assessment untuk tiap point kompetensi berupa assessment teori dan praktek. Beberapa point penting dalam langkah ini adalah (1) mengetahui secara jelas pemahaman operator terhadap proses, urutan, dan tujuan dari pekerjaan yang dilakukan, (2) mengetahui secara aktual (genba) skala prioritas yang dilakukan, serta (3) mengetahui klasifikasi item kompetensi yang terpenting di dalam pekerjaannya. Untuk mendapatkan hasil pre-assessment yang akurat dibutuhkan waktu yang intensif agar perusahaan dapat mengetahui pengembangan yang diperlukan bagi setiap manpower.

Pengembangan dibutuhkan untuk meningkatkan level skill kompetensi berdasarkan gap dari standard dan hasil pre-assessment. Pengembangan terdiri dari (1) pengetahuan teori untuk basic skill, contohnya seperti cara menggunakan alat ukut caliper atau cara untuk mengoperasikan mesin grinding sampai teori keahilan khusus seperti why why analysis untuk menyelesaikan masalah. Selanjutnya dilakukan (2) praktek dari teori yang sudah diajarkan dan implementasi langsung penyelesaian masalah di mesin. Pengembangan yang tepat harus dilakukan secara berkelanjutan dan prosesnya dapat dilakukan secara parallel dengan pekerjaan wajibnya. Setelah pengembangan selesai dilakukan, perusahaan dapat melakukan assessment kembali untuk melihat hasil pembekalan teori dan praktek yang sudah dilakukan.

Kesimpulannya untuk menciptakan “dokter spesialis” mesin yang handal bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan proses bertahap dan waktu yang tidak singkat. Selain itu, proses dan evaluasi secara berkelanjutan harus terus dilakukan demi mendapatkan hasil yang maksimal.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *