Menciptakan Operator dengan Paradigma Total Productive Maintenance

Program TPM (Total Productive Maintenance) sasaran akhirnya adalah nihil kerusakan mesin (zero breakdown), hal ini sering menjadi perdebatan yang berkepanjangan sehingga pelaksanaan programnya sendiri menjadi terbengkalai. Ada hal yang sering dilupakan, yakni tidak melibatkan orang yang sehari-hari berada di sekitar mesin yaitu operator. Selama ini operator lebih berperan dalam menjalankan mesin, sedangkan kebersihan dan perawatannya berada di bagian perawatan (maintenance).

Kalaupun bagian tersebut menjalankan tugasnya dengan benar, dalam hal kebersihan dan perawatan mesin, apabila terjadi sesuatu di mesin maka hal ini sangat terlambat diketahui oleh bagian tersebut. Operatorlah yang setiap saat berada di mesin.

Belajar dari buku Toyota Way – Prof. Liker, maka peran Operator adalah:

  • Melaksanakan pekerjaan sesuai standard yang berlaku
  • Mempertahankan 5S dalam area kerjanya
  • Melakukan perawatan sederhana yang bersifat rutin
  • Mencari peluang “Improvement/Kaizen”
  • Mendukung aktivitas kelompok kecil penyelesaian masalah

Lalu bagaimana mengubah pola pikir operator yang selama ini hanya bertugas menjalankan mesin saja?

Hal pertama yang dapat dilakukan adalah melaksanakan program kebersihan awal di mesin (seperti “overhaul”) yang melibatkan jajaran pimpinan puncak, sebagai gambaran komitmen mereka di program ini.

Melalui program ini, diharapkan masalah-masalah yang sering muncul di mesin dan sekitarnya, yaitu bocor, kotor, berantakan, kurang visual, dapat ditanggulangi dengan cepat.

Bila kondisi mesin setelah operasi pembersihan awal seperti gambar di halaman sebelumnya, maka dapat dipastikan operator mau ikut terlibat untuk mempertahankan kebersihan tersebut. Keterlibatan operator sangat penting dalam melaporkan gejala penyimpangan di mesin, baik itu suara, getaran, panas dan sebagainya, kepada bagian maintenance.

Kecepatan dan ketepatan operator dalam melaporkan gejala inilah yang menjadi masukan bagian perawatan, guna melaksanakan perbaikan secepatnya. Operator nantinya dilengkapi kartu (tag) berwarna putih dan merah yang ditempelkan di mesin yang menunjukkan suatu gejala yang sedang terjadi. Warna putih ditempelkan apabila gejala yang terjadi dapat diatasi sendiri oleh operator, sedangkan warna merah adalah untuk gejala di mesin yang tidak dapat ditangani sendiri oleh operator.

Dengan dikumpulkannya kartu warna putih dan merah yang tertempel di mesin, maka dapat dikumpulkan data yang sebab timbulnya gejala.

Gejala di mesin apabila tidak ditangani maka akan menimbulkan kerusakan kecil, apabila hal ini tidak diperbaiki maka akan menimbulkan kerusakan sedang dan seterusnya sampai dengan mesin rusak tidak dapat dijalankan (breakdown).

Dari data label putih yang terkumpul, oleh operator dapat dimanfaatkan untuk mencari peluang perbaikan agar gejala tersebut tidak muncul kembali; disini operator perlu dibekali dengan pola pikir pemecahan masalah daur PDCA (plan-do-check-action).

Kalau seluruh operator melaksanakan pembersihan mesin dan mengamati gejala apa yang terjadi, untuk kemudian mencari peluang perbaikannya; maka zero breakdown mesin bukanlah suatu angan-angan.

 

PQM Consultants menyelenggarakan workshop Total Productive Maintenance pada tanggal 30-31 Oktober 2019 dalam bentuk Public Training, informasi lebih lengkap dapat Anda simak di sini.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *