MENGELOLA FUNGSI PELATIHAN DENGAN EFEKTIF DAN EFISIEN

Saat ini kegiatan pelatihan telah dianggap sebaqai suatu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan operasional perusahaan . Kegiatan ini telah dipandang sebagai  suatu keharusan untuk meningkatkan kinerja karyawan dan pada akhirnya meningkatkan kinerja organisasi.  Pada saat yang sama,  tuntutan akan hasil pelatihan terhadap peningkatan kinerja juga semakin tinggi.

Namun dalam kenyataan sehari-hari, kontribusi pelatihan terhadap peningkatan performance juga sering dipertanyakan.  Hal ini disebabkan karena kecilnya kontribusi langsung pelatihan terhadap peningkatan performance. Sebuah survei di Amerika menunjukkan bahwa hanya 30% dari apa yang dipelajari yang benar-benar diterapkan. Bagaimana dengan kontribusi pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan di perusahaan Anda?

Sayang di Indonesia belum pernah dilakukan suatu survei secara sistematik mengenai kontribusi pelatihan yang dilakukan di perubahan. Laporan dari fungsi pelatihan (Training Function) masih bersifat jumlah aktifitas pelatihan, jumlah peserta pelatihan dan jumlah waktu pelatihan per orang. Belum ada laporan mengenai evaluasi kontribusi pelatihan terhadap kinerja.

Namun, berdasarkan observasi sepintas, rasanya angka kontribusinya akan lebih rendah dari pada yang terjadi di Amerika Serikat. Asumsinya adalah bahwa pengelolaan fungsi pelatihan di AS sudah lebih jauh perkembangannya. Sedangkan di Indonesia, masih banyak perusahaan yang melakukan pelatihan secara ad hoc tanpa analisa yang mendalam keterkaitannya dengan kinerja organisasi.

Jika kontribusi pelatihan terhadap kinerja rendah, dalam keadaan krisis ekonomi yang kita alami ini, tidak tertutup kemungkinan manajemen akan memandang kegiatan pelatihan sebagai sumber pemborosan. Jika ini terjadi, maka mutu sumber daya manusia kita akan semakin terpuruk lagi. Oleh sebab itu, sudah waktunya, pengelolaan fungsi pelatihan dibebani secara sistematik.

 

Kerjasama kemitraan antara pihak pengelola pelatihan dan manajemen

Dalam wawancara dengan para pengelola pelatihan dan “trainer” yang pernah kami lakukan, keluhan mereka yang paling sering kami dengar adalah kurangnya dukungan dan komitmen dari manajemen. Mereka lebih sering memandang manajemen sebagai penasehat atau sponsor, bukan sebagai partner (mitra). Namun dalam percakapan kami dengan pihak manajemen, berkomentar bahwa kegiatan bagian pelatihan itu seringkali tidak terintegrasi dalam kegiatan bisnis. Bagian pelatihan lebih sering hanya berperan sebagai penunjang.

Hal ini menunjukkan bahwa bagian pelatihan diharapkan berperan sebagai partner (sederajat) dengan manajemen untuk meningkatkan kinerja. Peran ini menuntut perubahan orientasi pengelola pelatihan dari orientasi pelatihan ke orientasi peningkatan kinerja. Dalam orientasi peningkatan kinerja menuntut pengelola pelatihan untuk mampu menggunakan pendekatan-pendekatan non-pelatihan, seperti pembenahan lingkungan kerja (working environment) dan alat bantu kerja (job-aid).

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *