Mengubah Change Management: Satu-satunya Cara Survive di Era Bisnis Digital

Era digital memaksa banyak bisnis untuk mengubah operasional mereka secara radikal. Era ini menciptakan iklim persaingan yang sangat ketat dan kejam, di mana mengelola change management saja tak cukup untuk membuat organisasi kita survive. Pakar bisnis dan manajemen perubahan Rephael Sweary menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan bisa bertahan di era digital yang kejam saat ini.

Di luar pekerjaan, salah satu minat saya adalah memperbaiki mobil tua. Saya melakukan perawatan dan modifikasi, bekerja keras berjam-jam, sering dalam keadaan yang tidak nyaman, untuk membawa kehidupan dan masa muda kembali ke mesin tua yang jadi obyek ketertarikan saya itu. 

Namun, yang membuat saya kesal, begitu saya bekerja berjam-jam dan mobil tua itu berjalan seperti baru lagi, sesuatu yang lain pasti akan rusak. Sementara lingkaran tanpa akhir ini membuat frustrasi, saya telah memperoleh apresiasi besar untuk hiburan ini. Saya harus mengubah pola pikir saya dan mengakui bahwa gangguan adalah bagian dari hobi, dan sangat penting bahwa kita mampu menerima tantangan yang berkelanjutan.

Namun, sebagian besar organisasi belum mengadopsi pendekatan semacam ini terhadap perubahan konstan setelah evolusi perangkat lunak dilakukan di dalamnya. Pergeseran dari alat sebelumnya kepada perangkat lunak cloud melibatkan perubahan besar, dari perangkat lunak yang kurang konsisten dari perspektif pengalaman pengguna, kepada beberapa perangkat lunak terbaru di pasaran. 

Karyawan merasakan beban perubahan ini, karena mereka secara teratur perlu beradaptasi dengan aspek-aspek baru dari lingkungan digital mereka.

Sayangnya, sistem pendekatan untuk manajemen perubahan (change management) saat ini cacat. Banyak perusahaan malah menangani manajemen perubahan sebagai sebuah proyek dengan awal, tengah dan akhir yang berbedadi mana semua orang berlarian kembali ke tempat masing-masing ketika perubahan itu “selesai.” 

Namun, sama seperti ketika saya memperbaiki mobil tua, tidak ada akhir untuk mengubah manajemenini adalah upaya yang berkelanjutan. Ini semua tentang mengubah pola pikir.

 

Menumbuhkan Pola Pikir Baru

Selain melakukan pemeliharaan rutin dalam menjalankan organisasi, kita harus melihat perubahan di luar tembok organisasi kita. Perubahan itu sendiri berbeda saat ini – ditandai dengan transisi yang sedang berlangsung dan tumpang tindih – semua dalam keadaan yang serba cepat. 

Menurut Gartner, karyawan saat ini mengalami tiga perubahan besar setiap tahun, dibandingkan dengan hanya 1,75 perubahan besar pada 2012.

Selain itu, hampir dua pertiga CEO dan CFO mengantisipasi perubahan model bisnis, karena transformasi digital dan dorongan dari investor. 

Cara perubahan dikelola dalam organisasi membutuhkan perubahan mendasar. Perubahan manajemen seperti yang dilakukan di masa lalu bukan lagi alat yang layak untuk menciptakan hasil yang efektif dan tahan lama. 

Sebagai gantinya, para pemimpin perusahaan harus belajar untuk mengelola keadaan yang berkelanjutan, beroperasi dengan pendekatan dan kesiapan perubahan yang dinamis.

Dalam setiap garis vertikal industri, bisnis dihadapkan dengan realitas baru. Contohnya bank. Alih-alih berhadapan dengan organisasi keuangan lainnya, mereka diancam oleh penyedia jasa teknologi keuangan (fintech). 

Solusi ini dapat mengidentifikasi kebutuhan yang berbeda dalam rantai nilai (value chain) yang ada, karena struktur baru mereka.

Bersaing dengan bank lain adalah satu hal, tetapi bersaing dengan raksasa teknologi keuangan adalah ‘makhluk’ yang sama sekali berbeda. Mereka harus memerangi persaingan ini dengan segenap kemampuan mereka untuk bereaksi terhadap perubahan digital, permintaan yang sangat tinggi untuk organisasi yang berakar dalam sejarah panjang operasi pra-digital. 

Jika bank terlalu lama mengabaikan ancaman baru ini, mereka cenderung tidak akan mampu bersaing dengan pelanggan modern. Perhatikan baik-baik vertikal industri mana pun, dan Anda akan menemukan pola yang sama.

 

Prioritaskan Manajemen Adopsi Alih-alih Manajemen Perubahan

Perusahaan paling kuat saat ini menggunakan manajemen produk digital, menggabungkan aspek digital ke dalam produk dan penawaran mereka. Tetapi yang lebih penting, DNA digital suatu organisasi dimulai secara internal. 

Ini berarti membangun kerangka kerja yang memungkinkan Anda untuk terus menggunakan teknologi baru, memahami manfaat intinya dan merestrukturisasinya. 

Masalahnya adalah kesenjangan antara akuisisi sistem dan “kelancaran” penggunaan teknologi. Sebuah lingkaran setan muncul ketika Anda berada dalam kondisi adopsi yang konstan, selalu dengan harapan mencapai stabilitas. 

Tetapi bagaimana jika hari itu tidak pernah datang? Bagaimana jika belajar mengatasi perubahan adalah kondisi “stabil” yang baru?

Anda perlu beralih dari manajemen perubahan ke manajemen adopsi. Menyingkirkan timeline manajemen perubahan adalah tempat peralihan ke manajemen adopsi dimulai, tempat Anda memprioritaskan kondisi evolusi berkelanjutan dan penyesuaian saat dalam perjalanan menuju pembaruan. 

Manajemen perubahan sebagian besar berfokus pada hasil bisnis dan membuat orang mengubah perilaku mereka dengan cara apa pun yang diperlukan. Manajemen adopsi adalah tentang menciptakan perubahan yang berkelanjutan melalui budaya, pendidikan, dan teknologi yang terus berubah. 

 

Jadi bagaimana cara menyempurnakan strategi manajemen adopsi Anda?

  1. Bekerja dari dalam ke luar

Ada kata-kata mutiara zaman dulu yang menyatakan bahwa “perubahan datang dari dalam.” Kata-kata bijak ini mendapatkan makna baru ketika diterapkan pada kerangka kerja organisasi. 

Perubahan berkelanjutan berasal dari karyawan dan manajemen menengah. Mereka adalah orang-orang yang beroperasi di permukaan tanah dan berurusan dengan perubahan secara langsung. Kemampuan mereka untuk tetap gesit dan selaras dengan lanskap digital akan menentukan irama adaptasi organisasi, sehingga Anda harus memprioritaskan tahap perencanaan dan pendidikan mereka terlebih dahulu.

  1. Lupakan tujuan akhirnya

Para pemimpin bisnis perlu merangkul dan memelihara proyek perubahan jangka panjang, banyak di antaranya tidak akan memiliki titik akhir. 

Untuk CIO, ini berarti mengubah pola pikir Anda dari proyek ke produk. CIO tidak bisa lagi fokus pada timeline, investasi atau hasil. Anda sekarang harus fokus pada dukungan berkelanjutan sepanjang siklus hidup dan memandang tempat kerja sebagai portofolio produkdengan investasi berkelanjutan dan realisasi value

Alur kerja ini lebih kompleks daripada hanya bekerja melalui daftar to do, tetapi ini akan menawarkan organisasi Anda fleksibilitas dan pandangan ke depan yang diperlukan untuk bertahan hidup di era digital.

  1. Rencanakan proyek yang tumpang tindih

Salah satu kegagalan terbesar manajemen perubahan tradisional adalah kegagalannya untuk mengakui titik temu proyek perubahan. Di tempat kerja digital, selalu ada beberapa bagian yang bergerak. Misalnya, saat mempekerjakan karyawan dalam sistem manajemen pengeluaran baru, vendor CRM Anda dapat menambahkan fitur baru yang membutuhkan penyelarasan dan pelatihan ulang. 

Rencanakan skenario dimana perubahan terjadi secara bersamaan di seluruh organisasi.

Perusahaan-perusahaan yang akan paling sukses dalam proses transformasi digital mereka adalah mereka yang mengubah pola pikir mereka dan merangkul perubahan yang dilakukan bersamaan. Ini akan memberi perusahaan Anda keunggulan kompetitif jangka panjang karena Anda akan dibuat untuk dapat beradaptasi dengan lebih baik. 

Bagaimana cara Anda mempersiapkan diri untuk dasar-dasar bisnis yang penting yang sedang berubah, jika tidak dengan cara ini?

 

PQM Consultants menyelenggarakan workshop Change Management pada tanggal 20-21 Agustus 2019 dalam bentuk Public Training, informasi lebih lengkap dapat Anda simak di sini.

 

Artikel ini ditulis dalam Bahasa Inggris oleh Rephael Sweary, Presiden dan Co-Founder WalkMe, Digital Adoption Platform terkemuka juga merupakan mentor dan investor di banyak startup.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *