Pentingnya Kolaborasi Fungsi Management dan Kepemimpinan

Sumber Daya Manusia: Untuk di Manajemeni atau di Pimpin?

Pertanyaan tersebut diatas pernah memancing diskusi yang panjang dalam majalah Management Review (Amarican Management Associations) di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Masalahnya muncul karena kesadaran bahwa pertumbuhan serta potensi manusia sebenarnya tiada batasnya, sehingga secara manajemen manusia tidak dapat lagi diperlakukan sebagai aset atau sumber daya yang sama dengan aset atau sumber daya yang lain seperti dana, mesin, materi, energi fisik, dan informasi.

 

SD Manusia Versus SD Non-Manusia 

Dalam praktek manajemen pada umumnya harus diakui bahwa SDM dan SDnonM sering dipersamakan dalam pandangan maupun perlakuan manajemen, namun pada sisi yang lain manajemen mengharapkan SDM berkinerja lebih daripada sekedar sebagai aset  atau SDnonM. SDM diharapkan tidak hanya sekedar menjalankan tugas secara benar seperti mesin, tetapi juga berprakarsa, berkreasi, bekerjasama, bermutu, berdedikasi, dan seterusnya. Dan jangan heran jikalau harapan manajemen tersebut sering menghasilkan kekecewaan.

SDM berbeda secara mendasar dari SDnonM. Selain potensi dan pertumbuhannya tidak terbatas, tambah usia SDM bukannya menyusut melainkan menambah nilai. Dalam kondisi yang baik ia dapat berkinerja lebih daripada yang diharapkan dengan memberikan yang terbaik. Jika diberdayakan ia dapat memecahkan masalah yang dihadapi berikut resikonya tanpa tiap kali mohon petunjuk. Berbeda dengan SDnonM, SDM memang tidak dapat menjadi aset milik manajemen dengan merampas kebebasannya.

SDM: Dimanajemeni atau Dipimpin?

Pelajaran dan pelatihan manajemen memang lebih banyak mengajarkan kita bagaimana memanajemeni daripada memimpin SDM dengan akibat para manajer lebih menguasai fungsi-fungsi manajemen daripada fungsi-fungsi kepemimpinan.

Wajar jikalau manajemen lebih tertarik pada pendayagunaan SDM daripada pembangunan SDM. Karena pembangunan manusia bukanlah kepentingannya. Wajar pula jikalau manajemen lebih berminat pada hasil kerja SDM daripada prosesnya. Wajar pula jikalau manajemen berminat menggunakan kelompok tetapi tidak terlatih untuk menggalang kelompok. Wajar, karena mereka adalah manajemen, bukan pemimpin.

Sebagai akibat dari manajemen yang tanpa kepemimpinan, SDM  akan bekerja dan menghasilkan seperti yang diminta juga, namun tanpa misi dan visi, mereka adalah “intelligent machine” yang pandai dan terampil serta ber-“dedikasi” (patuh). Mereka mungkin bermotivasi tinggi, berambisi besar dan mengejar kemajuan, tetapi tidak “sejalan” (aligned) dengan misi, visi dan nilai-nilai yang dianut oleh organisasi.

Jikalau manajemen mengharapkan agar SDM-nya tidak hanya sekedar melakukan tugasnya, tetapi juga berprakarsa, memberikan daya-upayanya secara optimal, senantiasa memperbaiki mutu kerjanyanya, berdaya dalam menghadapi masalah, melibatkan diri dalam upaya memajukan usaha, bersinergi dalam kebersamaan, membela kepentingan usaha secara loyal, serta bekerja dengan gairah, misi dan visi, maka tiada jalan lain para manajer harus juga menjadi pemimpin. Manajer yang berkepemimpinan atau kepemimpinan yang bermanajemen. 

 

Manajemen dan Kepemimpinan

Pembahasan singkat diatas mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa keberhasilan usaha suatu organisasi akan dicapai secara lebih langgeng (sustainable) apabila fungsi-fungsi manajemen dan fungsi-fungsi kepemimpinan, keduanya ada dan berfungsi secara seimbang dan saling melengkapi (complimentary). Manajemen menggalang bisnisnya yang lebih berstruktur dan rasional, sedang kepemimpinan menggalang energinya yang lebih emosional dan aspiratif bagi SDM-nya.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *