Pro Kontra Efektivitas Multitasking

Multitasking — kemampuan untuk melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu bersamaan — masih menjadi andalan bagi banyak pihak, baik organisasi maupun individu. Dari sisi organisasi, mereka ingin mempunyai dan mengembangkan karyawan yang mampu memiliki kemampuan multitasking, karena karyawan tersebut dianggap dapat bekerja lebih produktif dan ujungujungnya akan menghemat cost perusahaan. Dari sisi individu pun banyak yang mencantumkan kemampuannya bekerja multitasking dalam CV mereka, karena berharap akan memberi nilai tambah saat recruiter membaca surat lamaran mereka.

 Perkembangan teknologi yang sangat pesat tampaknya juga turut mendukung kemampuan kita untuk melakukan multitasking. Smartphone yang selalu ada dalam genggaman tentu akan memberi banyak kemudahan bagi kita. Misalnya saat mengikuti meeting di kantor, kita juga dapat melakukan beberapa koordinasi sekaligus melalui group chat disamping membalas email, melakukan sortir lamaran yang masuk ataupun mengecek kalender kerja kita. Belum lagi apabila setiap beberapa saat muncul notifikasi di handphone kita. Wow… terlihat sangat produktif bukan? Dengan multitasking tersebut kita seakan-akan telah mengerjakan banyak tugas. Namun benarkah bekerja dengan cara multitasking akan lebih efektif? Kenyataannya, kita hanya maju mundur untuk melakukan suatu hal, sehingga pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan bersamaan itu tidak ada satu pun yang benar-benar selesai. Hal ini malah menjadi pemborosan waktu.

Mari kita ibaratkan otak dengan browser yang bisa membuka banyak situs (multi tab) sekaligus. Ternyata komputer pun punya batas prosesor, yang apabila dibebani dengan aplikasi berat ataupun membuka banyak tab dapat terjadi hang! Kita mungkin dapat melakukan beberapa hal dalam satu waktu, namun hal itu akan membuat otak kita bekerja lebih berat, karena kita perlu memindahkan satu atensi ke atensi berikutnya secara cepat dan tepat. Tanpa disadari hal ini akan menguras energi dan emosi kita. Berangkat dari pengalaman pribadi, saya tidak bisa melakukan multitasking terlalu lama karena pasti ada hal-hal yang akan terlewat untuk dilakukan, karena hal penting tersebut “tertutup” dengan hal penting lain yang datang sebagai distraksi.

JADI BAGAIMANA MENGATASINYA?

Kunci pertama adalah fokus. Dengan adanya teknologi, informasi sangat mudah diakses dan (bahkan) kita kebanjiran informasi. Notifikasi yang muncul berulang kali tentu juga mengganggu fokus. Ada saatnya kita perlu diet informasi.

Kedua, buatlah skala prioritas. Utamakan yang urgent dan important untuk diselesaikan lebih dahulu. Buatlah daftar urutan kerja dengan memberi reminder pada tugas dengan prioritas rendah agar tidak lupa untuk dikerjakan.

Terakhir, kita perlu belajar mengorganisir pikiran. Tidak mengapa bila suatu saat kita mau beralih melanjutkan tugas lain, namun pastikan kita melakukannya dengan terorganisir. Terlalu sering berpindah-pindah atensi dalam waktu singkat hanya akan membuat kita lelah, karena kita perlu mengingat sampai di mana tugas yang sebelumnya kita tinggalkan. Pada akhirnya hal ini akan menurunkan produktivitas kerja dan kemampuan kita mengambil keputusan pun akan menjadi tidak maksimal.

Walaupun ada yang tetap berpendapat bahwa multitasking dapat dilakukan, namun pada akhirnya untuk menuntaskan semuanya kita tetap harus mengerjakannya satu per satu. Apakah Anda setuju dengan saya?

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *