SELF IMPROVEMENT I do it right at first, then I do it better and better… !

Saat long holiday Hari Raya Idul Adha 1434 H yang lalu, saya mudik ke rumah orang tua di Solo. Perjalanan menyusuri jalur selatan dan salah satu lokasi tujuan transit adalah Dusun Parakan, Desa Ngargogondo, Magelang.

Yang menarik perhatian saya untuk berkunjung ke desa tersebut bukan saja karena terletak di kawasan salah satu dari 7 keajaiban dunia yaitu : Candi Borobudur, namun sudah sejak lama saya mengikuti perkembangan melalui berbagai media, desa yang sering dijuluki sebagai Desa Bahasa dan ber-motto-kan:“Biar Ndeso, Asal Cas-cis-cus !”.

1

Desa tersebut menjadi proyek percontohan desa bahasa lain di Tanah Air, seperti kawasan Danau Toba, Pantai Cermin dan Bahorok-Sumatera Utara. Di desa Ngargogondo, percakapan bahasa Inggris berlogat Jawa memang sudah tidak asing lagi. Setiap Selasa malam, para orang tua berkumpul sambil berdialog bahasa Inggris dan biasanya diskusi bertambah seru jika ada turis mancanegara yang ikut nimbrung.

Sayang sekali saya tidak dapat bertemu pelopor dan pejuang perubahan di desa tersebut, yaitu : Bapak Guru Hani Sutrisno, namun saya dapat berdiskusi dan mendengarkan testimony dari beberapa murid beliau, yang saat ini turut membantu menjadi guru bahasa Inggris di desanya.

Sebagian besar dari mereka awalnya bekerja sebagai pedagang souvenir dan asongan di Candi Borobudur, yang tidak punya keahlian yang memadai khususnya dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan turis mancanegara. Hal ini juga berdampak pada kondisi ekonomi dan sosial di desa yang tidak kunjung membaik, walaupun berada di sekitar kawasan wisata tingkat dunia.

Itulah sebabnya pada tahun 1997, Pak Guru Hani Sutrisno yang berlatar belakang sebagai guru bahasa inggris honorer, bertekad untuk memperbaiki kehidupan warganya. Mulailah ia menyulap ruang tamu rumahnya menjadi tempat kursus bahasa inggris, Gratis !.

Ternyata walaupun gratis, peminatnya sangat sedikit. Pak Guru Hani kemudian menyusun strategi dengan merayu para orang tua untuk datang sekaligus membawa anak-anaknya. Kursus dimulai dengan hal-hal sederhana, misalnya : sambil bermain, berjualan, berhitung, menyebut nama hari dan nama benda di sekitar dalam bahasa inggris.

Hampir semua benda di sekitar rumah ditempeli kertas bertulisan bahasa inggris, mulai dari lantai, dinding, pintu, jendela, lukisan di pigura, batu hingga kandang kambing. Semua dibuat se-visualmungkin dan hal ini diterapkan juga oleh para orang tua di rumah masing-masing.

Setiap minggu mereka mempraktekkan langsung untuk berkomunikasi dengan turis mancanegara di Candi Borobudur. Prinsipnya “Grammar benar atau salah, itu urusan nanti. Yang penting berani ngomong dan lancar !”.

Teknik/metode pengajaran pun terus berkembang dan distandarkan sesuai dengan kemampuan warga mulai dari orang tua hingga anak-anak, yang mereka sebut sebagai SPEC (Simple English Course).

2

Keberhasilan warga desa Ngargogondo dalam mengembangkan dirinya membawa dampak yang positif, diantaranya : penghasilan warga rata-rata meningkat 15-20 kali lipat dari sebelumnya, karena bukan sekedar menjual souvenir, tapi nilai tambah yang dapat mereka berikan adalah sebagai juru pandu wisata yang bersertifikasi.

Pemuda/i desa Ngargogondo banyak yang meraih juara dalam berbagai kompetisi tingkat nasional seperti lomba pidato, lomba debat dan lomba menulis dalam bahasa inggris. Beberapa diantaranya juga dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan, karena mampu menularkannya ke desa-desa lain. Bahasa yang dikembangkan tidak sebatas bahasa Inggris, juga bahasa Arab, Jepang, Perancis, Belanda, dan Jerman.

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali Kaum tersebut mau mengubah dirinya sendiri, telah dibuktikan oleh Pak Guru Hani Sutrisno dan warga dusun Ngargogondo.

Begitu pun dalam bekerja, kita seringkali menemui tantangan, namun jika kita mampu untuk terus menggali potensi diri dan terus memperbaiki diri tentunya lambat laun tantangan/hambatan tersebut justru menjadi batu pijakan kita untuk selalu ke tingkatan yang lebih tinggi.

Improvement starts with “I”, I do it right at first, then I do it better and better… !

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *