TANTANGAN BERKOLABORASI DENGAN GEN-Y

Apakah anda pernah memiliki rekan kerja atau bawahan dengan usia yang masih muda dan jauh dibawah anda? Bagaimana rasanya bekerja sama dan mengarahkan mereka? Pasti banyak kesulitan yang anda alami bukan ? Untuk itu Artikel ini ditulis untuk membantu anda menyelesaikan permasalahan tersebut dan menghasilkan keuntungan yang sangat besar dari keterlibatan generasi Muda dalam perusahaan anda.

Gen-Y atau yang biasa disebut generasi muda adalah mereka para pekerja yang diperkirakan lahir di tahun  1980-an sampai dengan 1990-an, meski hal ini masih menjadi perkiraan.  Gen-Y sering dianggap tidak loyal terhadap perusahaan, kurang sabar, kurang memiliki etika, mau gampangnya saja, gadget freak, dsb. Contoh paling sering kita temui adalah mereka sering bekerja sambil mendengarkan musik dengan memakai earphone / headphone.

Sedangkan generasi sebelum Gen-Y biasa disebut Generasi Baby Boomers dan Gen-X yang dimana mereka adalah generasi para manajer dan pemimpin perusahaan yang telah bekerja sebelum Gen-Y muncul. Generasi Baby Boomers dan Gen-X biasa menggunakan cara yang santun, disiplin, beretika, dan menganut cara tradisonal dalam pekerjaannya.

Adanya perbedaan pemikiran dan pemahaman  antara keduannya menjadikan mereka kedua bagian yang terkadang berselisih pendapat, dan susah untuk menerima kinerja satu dengan lainnya. Hal ini dapat terjadi karena adanya perbedaan generasi kelahiran yang diikuti perkembangan teknologi dan budaya.

Namun sebenarnya Kedua perbedaan Gen-Y dan Generasi Baby Boomers dapat menjadi kolaborasi yang saling membantu dan mengembangkan kinerjanya untuk menghasilkan hasil kinerja yang excellent dengan banyak improvisasi dan penemuan cara yang terbaik bahkan belum pernah ada. Sayangnya, kolaborasi antar generasi di banyak perusahaan belum berjalan maksimal.

Masih banyak Gen-Y yang belum diberi kepercayaan dan dilibatkan dalam melakukan improvementdi tempat kerja. Generasi Baby Boomers yang telah terlebih dahulu memimpin dan berwenang merasa Gen-Y belum pantas untuk menjalankan tanggung jawab perusahaan karena tidak sesuai dengan kinerja tradisonal yang mereka harapkan.

Kaizen

Gen-Y tidak boleh dianggap sebagai sumber masalah di tempat kerja, namun harus dilihat sebagai kesempatan bagi perusahaan untuk bergerak maju dan inovatif. Mengapa hal ini saya katakan ?

Dari sebuah penerapan terhadap dua perusahaan besar di Indonesia, pada tanggal 22 Janauri 2016 PQM Consultants mengadakan acara Client Gathering dengan tema Developing Continuous Improvement Culture In Gen-Y. Dengan narasumber Ibu Dewi Trini, Regional Head dari PT Prodia Widyahusada dan Ibu Susanwati, Senior Advisor Divisi Strategi dan Desain Operasi Layanan dari PT Bank Central Asia, Tbk. Kedua narasumber ini berbagi pengalamannya bagaimana menggerakan improvement melalui lintas generasi di dalam organisasinya. Mereka menantang para Gen-Y untuk berkolaborasi bersama.

Apa yang mereka terapkan? PT Prodia dan PT BCA menerapkan Kaizen secara fun di dalam organisasinya. Sebelumnya Apa itu KaizenKaizen adalah perbaikan berkesinambungan sebagai wadah bagi Gen-Y untuk melakukan Improvementnya. Dengan penerapana Kaizen yang fun Gen-Y akan merasa tertantang dan leluasa melakukan Improvement, alhasil banyak ide-ide kreatif yang tercetus untuk perusahaan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa pentingnya penerapan Kaizen di setiap perusahaan.

Tidak hanya itu saja, dari sisi perusahaanpun mendapat banyak manfaat, yaitu karyawan Gen-Y menjadi lebih engage dengan perusahaan, perusahaan mengalami kenaikan sales dan kepuasan pelanggan yang meningkat.

“Bila anda sudah mengetahui trik-nya, maka Gen-Y ini akan memberikan kontribusi yang luar biasa bagi perusahaan anda. Untuk itulah diperlukan understanding generations di tempat kerja. ”

Ibu Dewi Trini, Senior Advisor Divisi Strategi Desain Operasi Pelayanan Pt. Prodia Widyahusada, menceritakan kesuksesan mengelola talenta Gen-Y dengan semangat muda!

Understanding Generation dalam Penerapan Kaizen

Apakah sulit mengembangkan understanding generations dengan Gen-Y? Gaya kepemimpinan seperti apa yang paling tepat untuk mengembangkan Gen-Y? Bagaimana cara me-retain Gen-Y agar ia bisa lebih loyal di perusahaan? Bagaimana cara berkomunikasi yang tepat dengan para Gen-Y agar bisa tercipta kolaborasi yang baik di dalam tim?

Ibu Dewi Trini yang saat ini sudah berusia 55 tahun dan notabene masuk dalam generasi Baby Boomers berani berkomitmen dalam memfasilitasi Kaizen di organisasinya. Ia pun berani meninggalkan gaya tradisional dalam memimpin dan tidak sungkan melebur dengan para Gen-Y. Beberapa hal dikemukakan oleh Ibu Dewi bagaimana Gen-Y berperan signifikan dalam meningkatkan sales Prodia di cabang-cabangnya. Ide dari karyawan Gen-Y disupport penuh dan setelah dicoba diterapkan terbukti ampuh dalam meningkatkan sales.

Senada dengan Ibu Dewi, Ibu Susanwati juga menantang para Gen-Y melakukan improvement untuk meningkatkan sales sekaligus kepuasan pelanggan. Improvement yang dilakukan oleh para Gen-Y adalah mempercepat proses pengisian formulir dan menghindari antrian panjang di teller dengan menciptakan proses membuka rekening secara kilat di mal sehingga customer tidak harus harus mengantri panjang. Selain itu, Ibu Susanwati juga menangkap karakter Gen-Y yang suka grouping, senang eksis dan berkompetisi, sehingga ia menantang para karyawan Gen-Y untuk melakukanimprovement di tempat kerja internal BCA. Bila satu cabang berhasil, cabang lain otomatis akan penasaran dan mencari tahu apa yang diterapkan di cabang tersebut. Cabang yang telah berhasilpun tidak tinggal diam, mereka berusaha melakukan improvement yang lebih baik lagi agar tidak mudah disaingi. Dengan demikian, para kantor cabang akan berlomba-lomba untuk terus melakukan improvement dan secara otomatis budaya Kaizen diterapkan dengan baik. Kaizen yang terus berjalan dapat membuat para Gen-Y semangat bekerja dan lebih engage dengan perusahaan.

Ibu Susanwati, Senior Advisor Divisi Strategi dan Desaini Operasi Layanan di PT. Bank Central Asia (BCA) Tbk. menceritakan penerapan Kaizen atau Continuous Improvement Culture dengan karyawan  Gen Y di dalam organisasinya.

Dengan dua pengalaman di atas, kita pun dapat meniru langkah mereka sebagai salah satu cara untuk memahami Gen-Y. Bila bisa menggandeng Gen-Y, kolaborasi antar generasi dapat tercipta dan dapat membangun kekuatan baru yang lebih dasyat. Gen-Y…. yuk kolaborasi!

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *