Training Within Industry – Membangkitkan Semangat Kerja

Pada suatu Selasa sore di bulan Februari 2008, Starbucks meliburkan seluruh tokonya di AS dengan satu tujuan: melatih ulang 135 ribu barista – pelayan yang mempersiapkan kopi espresso- tentang bagaimana cara menuangkan espreso dalam sebuah takaran yang tepat, untuk sebuah kesempurnaan. Menuangkan espreso adalah sebuah seni tersendiri, proses penuangan yang terlalu cepat akan menyebabkan rasa espreso jadi lemah. Sebaliknya proses yang terlalu lama menyebabkan espreso jadi pahit, terlalu kuat. Proses yang sempurna adalah laksana menuangkan madu melalui sebuah sendok, lekat sekaligus semanis caramel. Ini adalah karya seni tingkat tinggi.

Tulisan di atas diambil dari buku “Onward, How Starbucks Fought for Its Life without Losing Its Soul”, yang menceriterakan bagaimana Howard Schultz –CEO Starbucks- membangun kembali semangat para kerjanya yang sempat menurun setelah dia tidak lagi menjabat sebagai CEO. Apa yang dilakukan oleh Schultz adalah salah satu bentuk dari penerapan TWI –Training Within Industry-.

TWI muncul di Amerika pada waktu menghadapi Perang Dunia II dimana kebutuhan akan peralatan dan amunisi untuk perang naik, akan tetapi pekerjanya tidak ada karena berangkat ke medan perang. Maka disiapkanlah materi pelatihan yang bisa menyiapkan pekerja dengan waktu singkat, akhirnya diperoleh sertifikasi untuk 1,6 juta pekerja dari 16.500 pabrik. TWI memang dibentuk untuk mengatasi situasi darurat saat itu, akan tetapi hasil yang diperoleh menjadikannya metoda tersebut bisa dilaksanakan juga saat ini.

TWI disusun berdasarkan pada kebutuhan pimpinan kerja, yaitu dua-pengetahuan: pekerjaan dan tanggungjawab, tiga-keahlian: mengajar, meng”improve/Kaizen” metoda kerja, dan memimpin (digambarkan layaknya lima jari tangan).

Keseluruhan program berdasarkan pada tahapan persiapan – presentasi – penerapan – uji kemampuan.

 

Dalam TWI ada tiga program, yaitu

  1. Job Instruction (JI)

Pelatihan dimana atasan atau pekerja yang terlatih, mengajarkan kepada pekerja yang kurang terlatih sampai mencapai di atas kecepatan yang biasanya. Apa yang dilakukan oleh pelatih

  • Memecah pekerjaan menjadi tahap-an pekerjaan yang rinci
  • Memperlihatkan prosedur ketika menerangkan “key point” dan alasannya.
  • Melihat apa yang dilakukan dan melakukan coaching pada pekerja yang dilatih

Semboyan di JI, “Bila pekerja tidak belajar, maka pelatih tidak mengajarkan”

 

  1. Job Methods (JM)

Pelatihan yang membekali pekerja untuk

  • Mengevaluasi pekerjaan secara obyektif, agar pekerjaannya efisien dan mengusulkan improvement.
  • Mengembangkan dan menerapkan metoda improvement ECRS – Eliminating, Combining, Rearranging, Simplifying -,
  • Menawarkan usulan metoda hasil improvement kepada atasan atau rekan kerja guna mendapatkan persetujuan, yang berdasarkan pada kriteria Safety, Quality, Quantity, Cost
  • Menyusun standard baru hasil improvement.

 

  1. Job Relations (JR)

Pelatihan yang mengajarkan pada atasan agar berlaku efektif dan adil. “Orang harus diperlakukan sebagai individu”.

 

Kembali ke kisah yang diambil dari buku “Onward, How Starbucks Fought for Its Life without Losing Its Soul” di awal tulisan artikel ini, terlihat bagaimana Howard Schultz selaku CEO Starbucks menjalankan metoda TWI.

  • JI – secara rinci (tahap demi tahap) bagaimana membuat espresso yang diajarkan kepada 135 ribu barista, sehingga di setiap gerai Starbuck akan dijamin memiliki rasa espresso yang sama
  • JM – ada cerita lain di buku tersebut yaitu bagaimana menghindari melelehnya keju dalam memanggang sandwich, karena keju yang meleleh akan mengeluarkan aroma yang merusak aroma kopi di gerai Starbucks. Solusi terbaik akhirnya didapat dengan menempatkan keju di lapisan paling atas sandwich dan memanggangnya pada temperatur 3.000 F.
  • JR – melalui program pelatihan yang dijalankan, Schultz sangat bangga dengan anak buahnya, ia menyaksikan sendiri bagaimana seorang barista di sebuah kedai kopi di Milan tampak sangat menikmati pekerjaannya ketika menuangkan espreso, menyeduh kopi, sekaligus menyajikannya dengan penuh citarasa. Bagaikan seorang maestro!

Melalui penerapan TWI di perusahaan diharapkan standard kerja yang sama antara satu pekerja dengan lainnya akan tercapai, dimana pada akhirnya akan meningkatkan Produktivitas, Quality, Safety; menurunkan Cost dan mempercepat Delivery, semoga.

 

PQM Consultants menyelenggarakan workshop Kaizen Event & Factory Tour at PT. YAMAHA MUSIC MANUFACTURING ASIA pada tanggal 5-7 November 2019 dalam bentuk Public Training, informasi lebih lengkap dapat Anda simak di sini.

Selain itu, PQM Consultants juga menyediakan Program Training Within Industry dalam bentuk In-House Training, informasi lebih lanjut hubungi kami di cro@pqm.co.id

 

Referensi:

1) Dinero, Donald A. 2005. Training Within Industry. USA: Productivity Press.

2) Onward. 2001. How Starbucks Fought for Its Life without Losing Its Soul, Howard Schultz and Joanne Gordon: USA. Rodale Books.

3) http://www.leanceo.com/topics/twi-training-within-industry (14:35; July 19, 2011)

4) http://www.leanceo.com/articles/twi-influence-tps-and-kaizen (14:35; July 19, 2011)

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *