Zootopia: Ekspektasi dan Realita Kerja Generasi Milenial

Masih ingat dengan film Zootopia yang disutradarai oleh Byron Howard dan Rich Moore pada tahun 2016 lalu? Apabila anda lupa atau belum pernah menontonnya, mungkin sebaiknya Anda segera membuka search engine Anda dan mulai mencari film tersebut. Tentu saja bukan untuk mengunduh film tersebut secara gratis, tetapi untuk membaca sedikit sinopsis dari film tersebut.

Dalam film tersebut terdapat sebuah tokoh utama seorang kelinci  bernama Judy Hopps yang tinggal di sebuah desa Bunnyburrow. Semenjak kecil ia selalu memimpikan dirinya bila dewasa nanti bisa tinggal dan bekerja di Zootopia, sebuah kota metropolitan dan menjanjikan karir yang gemilang. Setelah menyelesaikan pendidikannya sebagai seorang polisi dengan nilai terbaik, ia pun melamar kerja di Departemen Kepolisian Zootopia sesuai impiannya. Dengan semangat dan harapan tinggi (menjadi polisi yang berpengaruh di kota metropolitan) ia  pun memulai hari pertamanya. Tetapi apa yang terjadi? Seorang lulusan akademi kepolisian terbaik hanya menjadi seorang polisi tilang! Sebuah pekerjaan yang jauh dari harapannya. Bahkan ia diremehkan oleh kepala kepolisian karena pengalamannya yang masih nihil. Disini pemikiran Judy terhadap Zootopia mulai berubah karena ternyata kota impiannya masih berpikir tradisional dalam persaingan kerja.

Sampai di sini, apakah Anda pernah mengalami hal serupa dengan Judy Hopps? Sekolah dan berkuliah di sebuah Universitas kenamaan di kota Anda atau bahkan di luar negeri, tetapi saat bekerja Anda hanya di berikan tugas yang tidak menantang sama sekali? Merasa kemampuan Anda tidak dihargai dan diremehkan karena Anda hanyalah orang baru yang belum memiliki periode kerja seperti rekan-rekan kerja Anda? Namun Anda masih sangat berharap untuk menjadi orang yang diperhitungkan oleh perusahaan tempat Anda bekerja karena perusahaan tersebut merupakan perusahaan impian Anda dan orang-orang kebanyakan. Lalu ketika ekspektasi Anda tidak tercapai, apa yang akan Anda lakukan? Mencari pekerjaan baru dan berharap akan ada perusahaan yang sempurna, dimana Anda memiliki atasan yang bisa melihat potensi Anda dan mau menempatkan Anda pada posisi yang cukup signifikan kontribusinya? Lalu pertanyaannya, adakah perusahaan yang sempurna? Adakah atasan yang sempurna untuk memimpin dan menjadi leader ideal? Tidak. Jika Anda sudah tahu jawabannya buat apa bersusah payah mengulang kejadian serupa di perusahaan yang berbeda? Lalu apa yang harus dilakukan?

Sejalan dengan kisah Judy Hopps dan kekecewannya, yang harus Anda lakukan dalam situasi ini adalah berubah dan menyesuaikan diri. Mengapa saya? Belajarlah untuk mulai menghargai pekerjaan Anda sendiri saat ini dan tidak memandang rendah output yang Anda hasilkan. Belajarlah untuk selalu memuaskan next process Anda dan membuat setiap output yang Anda hasilkan berarti bagi mereka. Cara praktis menjadi seorang karyawan berpengaruh adalah dengan memenuhi target dan tanggung jawab melebihi kemampuan Anda.

Dalam dunia SDM, setiap karyawan adalah talent, tetapi untuk menjadi critical talent dibutuhkan tantangan yang cukup berat. Mercer (2014) mendefinisikan critical talent sebagai karyawan yang memiliki potensi kepemimpinan tinggi dan performa yang melebihi target. Jadi untuk bisa mencapai predikat tersebut Anda harus mampu membuktikan bahwa Anda memegang peran penting dalam kelangsungan organisasi. Bukan dengan memonopoli sebuah pengetahuan atau keterampilan di organisasi, melainkan dengan memberikan output sempurna dari setiap proses yang Anda kerjakan serta berdampak positif bagi tim. Jika Anda menyukai tantangan, sebaiknya mulailah memperbaiki cara berpikir Anda terhadap pekerjaan saat ini dan cara kerja agar lebih efektif serta efisien.

Setelah ini apakah Anda masih ingin mencari lowongan pekerjaan baru atau Anda tertantang untuk menjadi critical talent di perusahaan Anda?

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *