
Dalam berkembangnya seseorang dalam bekerja, menjadi manager mungkin menjadi sebuah target. Naik jabatan, punya tim, dan dipercaya menjalankan strategi perusahaan. Namun nyatanya menjadi seorang middle manager justru berada di posisi paling sulit, ditekan dari atas, dituntut dari bawah.
Target harus tercapai, perubahan organisasi terus berjalan, sementara ekspektasi semakin tinggi. Tidak sedikit yang merasa perannya berubah dari “leader” menjadi “penyambung tekanan”. Apa itu middle manager? Simak penjelasannya di bawah ini.
Definisi Middle Manager dalam Tingkatan Manajemen
Middle manager berada di tengah dalam tingkatan manajemen, berfungsi sebagai penghubung antara strategi top level dan eksekusi low management. Peran ini bertanggung jawab memastikan target perusahaan dapat dijalankan oleh tim secara efektif.
Hierarki management ini bisa dilihat di bawah ini.

Karena posisi manajerial level tengah ini berada di dua arah sekaligus, sering menghadapi konflik kepentingan, yaitu menjaga performa tim sekaligus memenuhi ekspektasi manajemen atas.
Beberapa peran penting yang harus dijalankan middle manager:
- Menerjemahkan strategi menjadi rencana kerja yang jelas
- Menyelaraskan KPI tim dengan tujuan perusahaan
- Mengelola komunikasi antara manajemen dan tim
- Mengembangkan kemampuan anggota tim
- Mengambil keputusan berbasis data, bukan asumsi
Fenomena Conscious Unbossing, Dampak dari Middle Manager?
Fenomena Conscious Unbossing, pernah dengar? Ini adalah kecenderungan pekerja menolak atau menghindari posisi manajerial karena melihat besarnya tekanan dan tanggung jawab, walaupun dengan kenaikan gaji dan jabatan. Menurut Robert Wolters Research, 52% profesional Gen Z menolak kenaikan jabatan dan lebih memilih menjadi staf atau individual kontributor
Bisa jadi fenomena ini terjadi karena melihat bagaimana generasi sebelumnya melakukan atau budaya kerjanya tidak cocok dengan generasi selanjutnya. Dan nyatanya, banyak middle manager dipromosikan karena performa individu yang baik, tetapi belum dibekali kemampuan leadership dan manajemen tim secara sistematis. Akibatnya, tekanan kerja meningkat tanpa kesiapan yang cukup.
Situasi ini membuat sebagian profesional memilih tetap menjadi individual contributor atau staf dibanding naik ke posisi manajerial. Jika tidak dikelola, fenomena ini dapat membuat perusahaan kehilangan calon pemimpin masa depan.
PQM Consultants Hadir Mengatasi Masalah yang Dihadapi Middle Manager

Jangan sampai kendala ini menimpa Anda dan perusahaan Anda, mulai bekali diri atau karyawan Anda sejak dini melalui pelatihan Supervisory Management: Enhancing Managerial Skills and Leadership.
Dalam pelatihan ini, Anda akan mempelajari how to manage people, task, and improvement. Tidak hanya itu, Anda juga dibekali kerangka pikir planning, organizing, actuating, controlling (POAC) untuk meningkatkan produktivitas kerja dan kualitas organisasi.
Daftar sekarang untuk mempersiapkan posisi manajerial yang matang nantinya!