S&OP adalah proses yang bertujuan menyatukan demand, supply, kapasitas, inventory, dan arah bisnis ke dalam satu keputusan yang selaras. Namun sebelum supply bisa merespons, sebelum operasi bisa mengeksekusi, dan sebelum manajemen bisa mengambil keputusan, perusahaan harus terlebih dahulu menjawab satu pertanyaan paling mendasar:
“Demand kita sebenarnya seperti apa?”
Di situlah Demand Review memegang peran yang sangat penting
Apa itu Demand Review
Demand Review adalah salah satu tahap awal di S&OP yang paling krusial. Tahap ini bukan sekadar aktivitas memperkirakan angka penjualan, tetapi proses untuk memahami permintaan pasar secara lebih realistis, lebih kritis, dan lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Demand Review membantu perusahaan melihat:
- bagaimana pola permintaan sedang bergerak,
- apa yang mendorong perubahan demand,
- seberapa realistis angka forecast yang dibuat,
- dan apakah asumsi yang digunakan benar-benar valid.
Artinya, Demand Review bukan hanya tentang “berapa angka yang diprediksi”, tetapi juga tentang seberapa sehat cara perusahaan membaca pasar.
Namun dalam praktiknya, banyak perusahaan justru memperlakukan Demand Review sebagai tahap administratif. Yang sering terjadi adalah:
- angka forecast langsung ditampilkan,
- asumsi tidak diuji,
- perubahan demand tidak dibedah,
- dan meeting hanya menjadi forum “lapor angka”
Akibatnya, perusahaan merasa sudah menjalankan demand review, padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah membaca angka tanpa benar-benar memahaminya.
Pentingnya Demand Review dalam S&OP
Demand Review menjadi sangat penting karena tahap inilah yang menentukan apakah organisasi sedang merencanakan sesuatu yang realistis, atau hanya sedang membangun rencana di atas asumsi yang rapuh.
Jika Demand Review dilakukan dengan baik, perusahaan akan lebih siap untuk:
1. Membangun Forecast yang Lebih Kredibel
Bukan hanya angka yang terlihat bagus, tetapi angka yang punya dasar dan dapat dipertanggungjawabkan
2. Mengurangi Reaksi Berlebihan di Sisi Supply
Supply, produksi, dan procurement tidak perlu terus-menerus bereaksi terhadap perubahan mendadak yang sebenarnya bisa dibaca lebih awal.
3. Meningkatkan Kualitas Diskusi Lintas Fungsi
Demand Review yang sehat membuat diskusi lebih lanjut, baik di supply review maupun executive review menjadi lebih substantif.
4. Menghindari Keputusan yang Terlalu Optimistis atau Terlalu Konservatif
Forecast yang tidak diuji sering kali mendorong perusahaan masuk ke dua jebakan: overstock atau missed opportunity.
5. Menciptakan Dasar yang Lebih Kuat untuk Pengambilan Keputusan
Karena pada akhirnya, keputusan bisnis yang baik tidak hanya bergantung pada data, tetapi juga pada kualitas interpretasi terhadap data tersebut.
4 Langkah Menjalankan Demand Review yang Praktikal

Proses S&OP yang sehat adalah jika setiap tahapnya diisi dengan pertanyaan yang tepat. Dalam konteks Demand Review yang baik juga perlu dijalankan dengan pendekatan yang lebih sistematis.
Secara praktis, Demand Review yang sehat bisa dibangun melalui 5 langkah utama berikut:
1. Analyze the Baseline
Langkah pertama dalam Demand Review adalah menganalisis baseline forecast. Artinya, perusahaan perlu memulai review dengan melihat:
- forecast statistik atau baseline forecast
- pola historis demand
- tren performa bulan sebelumnya
- pergeseran pola permintaan yang mulai terlihat
Tujuan tahap ini bukan untuk langsung mengubah angka, tetapi untuk memahami: “Kalau tidak ada intervensi apa-apa, demand kita secara natural bergerak ke mana?”
Ini penting karena tanpa baseline yang jelas, forecast akan terlalu mudah dipengaruhi opini, intuisi, atau tekanan sesaat.
2. Layer Key Assumptions
Setelah baseline dipahami, langkah berikutnya adalah melapisi forecast dengan asumsi bisnis yang relevan. Demand tidak pernah berdiri sendiri. Ia dipengaruhi oleh banyak hal seperti:
- program promosi
- seasonality
- perubahan harga
- peluncuran produk baru
- perubahan channel
- aktivitas kompetitor
- dinamika pelanggan utama
Di tahap ini, tim harus bisa menjawab: “Angka ini naik atau turun karena apa?”
Kalau sebuah forecast tidak punya asumsi yang jelas, maka angka tersebut belum cukup kuat untuk dibawa ke diskusi S&OP.
3. Identify Risks & Opportunities
Proses berikutnya adalah mengidentifikasi resiko dan opportunities. Artinya, kita tidak hanya bicara tentang proses yang ideal, tapi kita juga harus menyiapkan resiko apa yang terjadi dan peluang apa saja yang ada.
Hal-hal yang berpotensi membuat demand lebih rendah atau tidak sesuai ekspektasi, misalnya:
- promosi yang tidak berjalan sesuai rencana
- pelanggan utama menunda order
- penurunan pasar di area tertentu
- perubahan perilaku konsumen
Hal-hal yang justru berpotensi meningkatkan demand, seperti:
- permintaan mendadak dari key account
- momentum pasar tertentu
- peningkatan penjualan pada region tertentu
- efek positif dari campaign atau aktivasi
Idealnya, risiko dan peluang ini tidak dibahas secara abstrak, tetapi difokuskan pada:
- top items
- key customers
- critical regions
Karena pada akhirnya, tidak semua item punya dampak bisnis yang sama.
4. Reach a Final Agreement
Ujung dari Demand Review bukan cuma “semua sudah bicara”, tetapi harus berakhir pada satu angka demand yang disepakati bersama.
Karena salah satu masalah klasik di banyak perusahaan adalah:
- sales punya angkanya sendiri,
- planning punya versinya sendiri,
- operation punya ekspektasi berbeda,
- dan management akhirnya menerima informasi yang tidak benar-benar sinkron.
Demand Review yang sehat harus berakhir pada: Single Demand Number
Satu angka demand final yang akan menjadi dasar untuk:
- supply planning
- production planning
- procurement planning
- executive review
Tapi bukan hanya angkanya yang penting, juga harus yang dijaga adalah adanya:
- clear notes
- clear assumptions
- clear rationale
Jadi semua orang paham mengapa angka itu dipilih, bukan sekadar menerimanya begitu saja.
Pelajari Demand Review S&OP Bersama PQM Consultants!
Jika perusahaan Anda ingin memperkuat proses Demand Review dan meningkatkan kualitas perencanaan supply chain secara keseluruhan, maka pembelajaran yang tepat akan sangat membantu.
Melalui program Inhouse Training Demand Management, PQM Consultants membantu perusahaan untuk menciptakan Demand Planner yang dapat meningkatkan demand accuracy dalam perusahaan.
Dalam in-house training ini, Anda dapat mempelajari berbagai konsep dan praktik penting seperti:
- Pemahaman komponen dari demand management,
- Cara membuat formulasi strategi demand
- Cara membuat demand planning terkait dengan: marketing plan, sales plan, dan membuat demand forecast
- Cara membuat supply plan: production plan, resource plan, inventory dan distribution planning
- Cara menyeimbangkan demand dan supply: proses S&OP
Program ini cocok untuk perusahaan yang ingin:
- memperkuat kapabilitas tim planning dan supply chain
- mengurangi miskomunikasi antar fungsi
- membangun proses perencanaan yang lebih sehat
- dan meningkatkan kesiapan organisasi dalam menghadapi dinamika demand
Dengan pendekatan yang praktikal, aplikatif, dan relevan dengan tantangan bisnis nyata, PQM Consultants siap menjadi partner pembelajaran untuk membantu tim Anda membangun pondasi demand management yang lebih kuat.
Selain itu, program n-house training, dilengkapi dengan Training Led Program, yang berarti memberikan pelayanan maksimal saat pelatihan dan adanya coaching setelah pelatihan. Konsultasikan secara GRATIS sekarang!
Selain itu, PQM Consultants juga menyediakan Public Training: Demand Planning & Forecasting, untuk Anda individu profesional di bidang supply chain.
Public Training Demand Planning & Forecasting ini, akan membantu Anda memahami cara meningkatkan akurasi forecasting, optimalkan proses demand planning dengan integrasi lintas fungsi, serta memanfaatkan teknologi dan data analytics untuk pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat. Hasilnya, perusahaan dapat mengurangi risiko rantai pasok, meningkatkan efisiensi operasional, serta meningkatkan kepuasan pelanggan.Siap jadi profesional dengan value tinggi? Saatnya daftar sekarang pelatihan Demand Planning & Foreecasting