Belajar Practical Problem Solving Lewat Film ‘Searching’

Mungkin kita tak pernah terpikir untuk belajar konsep Practical Problem Solving saat menonton film. Tapi dengan menonton film Searching, tanpa terasa kita bisa mendapat gambaran tentang implementasi konsep tersebut, walaupun sedang duduk nyaman di sofa empuk dengan popcorn di tangan. Iya, ini seasyik itu!

Searching—rilis 24 Agustus 2018—merupakan gabungan dari genre drama, thriller dan misteri. Di tangan dingin sutradara Annesh Chaganty, dengan keren film ini mampu menggambarkan betapa hebatnya fungsi teknologi yang ada saat ini. Lebih dari itu, Searching juga menyajikan alur cerita mengenai hubungan yang dimiliki seorang ayah dengan putri semata wayangnya.

Margot Kim—putri satu-satunya dari David dan Pamela Kim—adalah gambaran seorang anak Gen-Y pada umumnya: melek teknologi, piawai dengan gadget dan aktif di media sosial macam Skype dan Facebook. Namun nasib malang menimpa Margot remaja saat ia kehilangan ibunya akibat kanker, dan harus tinggal berdua saja dengan ayahnya.

Krisis (problem) pun terjadi dalam alur cerita film ini: suatu hari, Margot berpamitan kepada David untuk pulang larut malam karena tugas sekolah. Namun nyatanya, hingga pagi, Margot belum juga pulang ke rumah. David yang gagal menghubungi putrinya segera meminta bantuan polisi. Namun 37 jam setelah melapor, tanda-tanda keberadaan Margot tak juga terlacak.

David yang putus asa dengan lambannya pencarian oleh polisi akhirnya memutuskan untuk melakukan penyelidikan sendiri.

Ketika menghadapi krisis dan dalam upaya menemukan solusi, kita dituntut untuk menganalisis masalah. Itulah yang dilakukan David. Dia pun menghubungi semua teman Margot yang ditemukannya di akun Facebook Pamela, mendiang istrinya. Sayang, tak satupun teman Margot tahu di mana dia berada, dan dari analisis tersebut David menemukan fakta bahwa selama ini putrinya tak memiliki teman dekat.

Pencarian David pun berlanjut. Dia mencari informasi dengan menelusuri pesan-pesan singkat yang terkirim antara Margot dan pamannya, Peter Kim—adik David. Efek kejutan pun terjadi ketika David menemukan adanya hubungan dekat antara Margot dan Peter; ternyata selama ini Margot mengkonsumsi narkoba, mengikuti jejak Peter. Adanya fakta baru ini memicu masalah lain: Hubungan David dengan Peter pun memanas; dia menuduh adiknya menculik Margot.

Namun perkiraannya salah, dan perjuangan David masih terus berlanjut. Dengan bantuan Tumblr dan Google Maps, dia berhasil mengetahui lokasi terakhir Margot. Sayangnya, detektif yang membantu pemecahan kasus meyakini bahwa kasus ini merupakan sebuah upaya melarikan diri, sehingga kasus tersebut ditutup. Tapi David tak sependapat.

Merasa ada yang janggal, David pun meneruskan penyelidikannya sendiri, hingga beberapa minggu kemudian dia menemukan titik terang. Dengan analisis dan upaya tak kenal lelah dalam menelusuri barang-barang bukti yang ada, dia pun berhasil menyelamatkan putrinya sekaligus menemukan dalang kejahatan yang telah merenggut Margot darinya.

 

Implementasi Practical Problem Solving

Baiklah, itu hanya paparan singkat dari alur film Searching, untuk memberi gambaran mengenai penerapan Practical Problem Solving. Dengan melihat analisis yang dilakukan David Kim, kita bisa melihat contoh penerapan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang dilakukan David, dalam Practical Problem Solving, penting bagi kita untuk terlebih dahulu melihat semua aspek masalah dari segala sisi agar mendapatkan gambaran permasalahan yang tepat.

Upaya untuk melihat masalah dari segala aspek dalam Practical Problem Solving dikenal dengan istilah Gemba, Genbutsu dan Genjitsu (3G). Gemba adalah real place, Genbutsu adalah real things, dan Genjitsu adalah real facts. Tempat, entitas dan fakta. Artinya, saat terjadi masalah (krisis), kita perlu melihat apakah setiap kondisi di tempat kerja telah menyimpang dari standar atau tidak. Lalu untuk dapat melihat ada atau tidaknya penyimpangan, kita perlu untuk melihat situasinya secara aktual.

Pada film Searching, kita bisa lihat dalam upayanya menemukan Margot, David melakukan analisis dengan menelusuri sekolah Margot, menghubungi teman-temannya, berusaha menggali fakta tentang anaknya di lingkungan tempat Margot biasa berada, dan berusaha mengumpulkan semua informasi mulai dari history panggilan telepon hingga chatting.

Selain melakukan analisis dengan konsep 3G, David menyelesaikan masalahnya dengan upaya yang mirip dengan penerapan teori diagram Ishikawa, alias Fishbone Diagram. Alat problem solving yang dirancang Kaoru Ishikawa ini berfungsi untuk melihat akar-akar penyebab sebuah masalah dengan spesifik. Diagram yang berbentuk seperti tulang ikan ini mendorong kita untuk menentukan problem statement sebelum menganalisis akar penyebab masalahnya.

Jika konsep diagram Ishikawa dihubungkan dengan proses penyelesaian masalah yang ada di film Searching, kita bisa lihat, yang pertama kali dilakukan David adalah menentukan permasalahan yang dihadapi (problem statement). Masalahnya yakni Margot hilang. Setelah problem diketahui, David melakukan analisis dari aspek Manusia, Metode dan Lingkungan menggunakan konsep 3G untuk mencari penyebab masalah.

Dari aspek Manusia, analisis dilakukan oleh David untuk mencari tahu penyebab hilangnya Margot. Yang mungkin saja disebabkan oleh konflik dengan teman-teman dan keluarga. Namun, setelah melakukan analisis yang hanya dari aspek Manusia, David tergesa-gesa mengambil kesimpulan bahwa yang menculik Margot adalah Peter. Ketika David menindaklanjuti analisis dari aspek Manusia, dia masih belum berhasil menemukan akar masalah untuk mengatasi problem (penculikan anaknya).

Karena itulah, dalam analisis, penggunaan diagram Ishikawa seringkali penting jika kita ingin menemukan akar masalah (root cause) yang menyebabkan problem. Selain itu, hal penting yang perlu kita lakukan adalah melakukan verifikasi pernyataan penyebab dan masalah menggunakan pernyataan ‘jika’ dan ‘maka.’

Dalam analogi cerita David Kim, setelah mengetahui fakta- fakta yang ada, David menyadari bahwa kesimpulan dari analisis yang dilakukannya tidak tepat. Oleh karena itu, David meneruskan proses analisisnya menggunakan media sosial yang diakses Margot dari laptopnya. Dari sana, David menemukan fakta bahwa dari kondisi lingkungan di sekitar, bahwa Margot tidak pernah memiliki teman dekat setelah kepergian ibunya.

Hasil analisis ini adalah yang diperoleh David dari aspek Lingkungan (environment). Sedangkan dari aspek Metode (method), fakta-fakta terkuak bahwa ada yang salah dengan cara pengasuhan yang dia terapkan untuk Margot remaja sejak kepergian sang ibu. David tidak begitu tahu bagaimana pergaulan Margot di Internet maupun di lingkungan sekitarnya. Dia juga tak sadar Margot lebih memilih dekat dengan teman-teman dunia maya-nya dibandingkan dengan ayahnya.

Setelah analisis menyeluruh dilakukan, David menemukan bahwa Margot tidak kabur, tapi diculik. Berdasarkan bukti- bukti TKP yang ditemukan David, dia akhirnya tahu bahwa salah satu teman medsos Margot-lah yang menculiknya. Root cause-nya adalah, teman medsos tersebut tahu benar seluk-beluk kehidupan Margot, lebih daripada David sendiri mengetahuinya.

Itulah kurang lebih praktik penerapan analisis menggunakan diagram Ishikawa yang bisa kita saksikan di layar kaca. Sesungguhnya, metode tersebut bisa kita terapkan tak hanya di lingkungan kerja, tapi juga di kehidupan sehari-hari. Kita bisa menemukan akar masalah yang menyebabkan ‘penyakit’ dan mengobatinya, alih-alih hanya mengobati simptom yang datang bersamaan dengan penyakit tersebut tanpa menangani akar penyebab masalahnya.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *