Leading With Questions: Helping Your People To Discover The Answers – Michael J Marquardt

[Penerjemahan artikel dari Professor Michael J Marquardt di Leadership Excellence Magazine]

Banyak pemimpin yang belum memanfaatkan kemampuan bertanya dalam kepemimpinan mereka. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa pemimpin yang banyak  bertanya itu adalah pemimpin yang lemah. Mereka masih percaya pada mitos bahwa pemimpin yang hebat itu adalah pemimpin yang pandai mendikte dan berdebat dengan anak buahnya.

Kemampuan pemimpin mengajukan pertanyaan telah menjadi kemampuan  yang sangat penting dalam era ekonomi yang berbasis kreatifitas dan inovasi. Kemampuan bertanya ini akan membuat mereka mampu memanfaatkan dan mengembangkan kapabilitas bawahan untuk berpikir dan bertindak secara kreatif.

Beberapa tahun yang lalu, Michael Hammer menyimpulkan bahwa salah satu alasan utama kegagalan perusahaan perusahaan sukses mempertahankan posisi di pasar adalah  ketidakmampuan para pimpinannya memanfaatkan seni dalam bertanya. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil penelitiannya  tentang bagaimana Sears; sebuah perusahaan retail raksasa kalah dengan Wal-Mart atau bangkrutnya perusahaan penerbangan Pam Am dan lain-lain.

Pola Pikir dalam Bertanya:

Pemimpin besar mengunakan pertanyaan untuk membangun partisipasi, kerjasama, berpikir kreatif dan memberdayakan orang dalam memecahkan masalah. Namun ada  dua (2)  pola pikir (mind-set) saat orang bertanya yaitu pola pikir sebagai pembelajar (learner) dan “Hakim” (judge).

Pola pikir Pembelajar mencari dan membangun solusi bersama orang lain dengan cara cara yang berorientasi pada keberhasilan bersama (win-win manner). Pemimpin dengan pola pikir Pembelajar cenderung optimis, berorientasi pada pencarian kemungkinan dan harapan yang baru. Pemimpin ini  bekerja dalam suasana yang saling mendukung (kolaboratif) dan inovatif.

Mereka mendorong orang untuk fleksibel, terbuka untuk gagasan gagasan baru dan tidak terpaku atau mencari pembenaran terhadap  pemikirannya sendiri. Pemimpin ini memperkuat kesadaran dan tanggung jawab orang lain terhadap pilihan gagasan, perasaan dan hasil yang diharapkan. Sedangkan pola pikir : “Hakim” cenderung bersikap reaktif, otomatis dan absolut dalam tindakannya. “Hakim” lebih  fokus persoalan dan masalah daripada solusi.

Pemimpin “hakim” bekerja dalam suasana menang-kalah (win-lose) dengan pola  “serang dan tahan”   Hakim lebih sering menyalahkan situasi atau orang lain daripada introspeksi terhadap pendapat pendapatnya sendiri  sehingga membuat orang lain bersikap membela diri (defensive). Pemimpin dengan pola pikir Hakim selalu  merasa sudah tahu jawabannya.

Mengapa pemimpin kurang memanfaatkan seni bertanya dalam tindakan sehari hari? Biasanya disebabkan trauma masa lalu,  tidak terlatih menggunakan seni bertanya  atau  budaya organisasi. Ada budaya organisasi meng”haram”kan orang untuk bertanya, apalagi pertanyaan yang terkait dengan kebiasaan dan kebijakan organisasi.

Seni dalam Bertanya:

Hindari pertanyaan pertanyaan yang mematahkan semangat (disempowering questions) yang membuat orang merasa terancam lalu bereaksi membela diri atau menjadi tidak jujur.

Gunakanlah  pertanyaan yang membuat  orang lain  merasa diundang, diterima sehingga  bersemangat  berpikir untuk mencari solusi, bukan membela diri. Contoh pertanyaan yang membuat orang bersemangat berpikir dan menyampaikan gagasannya. Pertanyaan:”Apa yang telah kita capai?  Apa yang belum? Bagaimana kita mencapainya”  akan memberikan dampak yang berbeda dibandingkan dengan pertanyaan ”Apa yang menyebabkan kita mencapai target? Mengapa masalah ini sampai bisa terjadi?

Hal ini seringkali tidak disadari dan tidak diajar secara khusus. Fokus pada perbaikan dan belajar bukan mengeluh atau “ngomel” dengan Bersikap terbuka, kita akan mendorong berbagai tanggapan. Beberapa kiat yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan bertanya adalah sebagai berikut:

  1. Miliki rasa ingin tahu yang tulus dan tidak membuat orang lain merasa sedang “diadili”, diintrogasi atau dimanfaatkan
  2. Mengajukan pertanyaan satu per satu, bukan “borongan” yang membuat orang bingung an panic
  3. Beri waktu untuk menanggapi atau menjawab. Tidak semua pertanyaan harus dijawab pada saat itu juga. Kualitas jawaban juga dipengaruhi oleh suasana
  4. Beri umpan balik secara konstruktif
  5. Ucapkan terima kasih saat anda mendapatkan tanggapan atau jawaban

Kiat ini dapat mendorong orang lain berpikir lebih dalam lagi saat pemimpin mengajukan pertanyaaan selanjutnya.

Pemimpin yang memimpin dengan bertanya mengembangkan suasana kerja yang manusiawi sekaligus bisnis yang lebih sukses. Pemimpin yang pandai bertanya akan membuat orang orang berdaya dan perusahaan berkembang.

PQM Konsultan telah menyelenggarakan Workshop Internasional yang bertajuk Leading With Question: How Leaders Foster Continuous Improvement Culture. Professor Michael J. Marquardt

Hari Rabu, 2 September 2015 di JW Marriott Hotel, Jakarta

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *