Transformasi Digital BNI Corporate University

BNI Corporate University berhasil menggeser paradigmanya dari sebuah Learning Center menjadi Learner as the Center of Learning. Melalui serangkaian inovasi pembelajaran lewat teknologi, BNI berhasil mengubah mindset karyawan mendapatkan pengetahuan sekaligus menelurkan beberapa inovasi pembelajaran yang futuristik. Masuknya perbankan ke dunia digital, ‘new banking experience’ tidak hanya dirasakan oleh nasabahnya, BNI juga mengajak karyawannya go digital dalam hal pembelajaran.

Sejak bertransformasi dari learning center menjadi corporate university pada pertengahan Juni 2016, paradigma baru ‘learner is learning center’ mulai diperkenalkan. Pelatihan yang sebelumnya lebih banyak dilakukan di dalam kelas, mulai diperbanyak porsinya untuk belajar dengan konsep go digital, di manapun dan kapanpun. Tranformasi ini terlihat dengan berkembangnya peran BNI Corporate University untuk menyediakan materi pembelajaran, fasilitas dan budgeting serta mentransformasi mindset pegawai menjadi pusat pembelajar itu sendiri. Dimana pegawai harus berperan lebih proaktif dan self-driven untuk mengejar pengetahuan baik untuk materi yang telah disediakan maupun mencari sumber pengetahuan eksternal lainnya.

PQM Consultants berkesempatan mewawancarai Mohammad Raleby, Learning Experience & Operations Deputy Division Head BNI untuk mengetahui secara dalam bagaimana effort dan inovasi strategi komuniasi BNI Corporate University untuk mengubah mindset paradigma pembelajaran baru yang mereka tawarkan. kepada segenap pegawai BNI.

 

Corporate University
Dalam sejarahnya Corporate University atau Universitas perusahaan muncul pada abad ke-20 sebagai kelanjutan dari tren pendidikan tenaga kerja yang dimulai sejak awal tahun 1914. General Motors (GM) dan General Electric (GE) pada awal tahun 1914 mengembangkan fungsi pelatihan keterampilan internal yang diperlukan kepada para pekerja untuk melakukan pekerjaan rutin.

Pelatihan dari GM dan GE ini dianggap sebagai pelopor dalam gerakan belajar tenaga kerja. Pelatihan perusahaan ini berlanjut hingga pertengahan abad ke-20 dengan tambahan, pelatihan menuju akreditasi perusahaan. Semua jenis industri berfokus pada pelatihan dan pengembangan internal pada saat itu.

Pada pertengahan tahun 1950, berdirilah Universitas perusahaan (Corporate University) pertama sebagai tanggapan terhadap perubahan tersebut dan berfungsi sebagai dasar pembelajaran strategis pada perusahaan industri.

 

Visi Besar Perusahaan
Sebelum membentuk Corporate University seperti saat ini, BNI mengadopsi gaya pengelolaan training center, dimana penyelenggaraan pelatihan belum terintegrasi dengan kompetensi serta strategi perusahaan. Praktis pekerjaan yang dilakukan berkutat pada persiapan modul pelatihan, penyedia tempat pelatihan dan budgeting pelatihan yang tersentralisasi.

Untuk mendukung visi perusahaan yang mengusung BNI Go Digital, BNI Corporate University pun melakukan serangkaian inovasi. Terdapat 3 terobosan yang dilakukan BNI Corporate University dalam mendukung strategi perushaaan lewat sarana pembelajaran, BNI Sistem Pembelajaran Terintegrasi (Smarter), Daily Employee Exercise Program 46 (DEEP46) dan BNI Learning Wallet (BLW). Platform-platform ini juga menjadi cara BNI agar membuat pegawai menjadi engaged untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

BNI Smarter merupakan singkatan dari Sistem Pembelajaran Terintegrasi atau Learning Management System yang disediakan oleh BNI Corporate University dalam menyediakan kemudahan sarana dan prasarana pembelajaran digital. Di dalamnya BNI Smarter menyajikan berbagai macam konten pembelajaran digital seperti digital learning, video pembelajaran, e-book, digital leadership, expert locator untuk kemudahan belajar kapanpun dan di manapun karyawan BNI berada.

Smarter secara sederhana dapat digambarkan sebagai one stop learning di mana di dalamnya pegawai BNI bisa mendapatkan materi pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Selain itu mereka juga bisa mengukur sudah berapa lama mereka belajar yang bisa diketahui melalui dashboard learning & sharing. Terdapat juga modul yang berisi soal-soal untuk mengukur tingkat pemahaman pegawai sesuai modul yang dipelajarinya.

Selain itu, Smarter juga berfungsi sebagai pencatat sudah seberapa sering pengetahuan yang dipelajari dibagikan kepada pegawai lainnya. Setelah mendapatkan pengetahuan, mereka juga diharapkan dapat membaginya kepada pegawai lain di dalam sistem ini sebagai bagian dari knowledge management di perusahaan. Smarter merupakan platform yang didesain dengan dilengkapi fitur “More Unleash” (Monitoring Realisasi Unggahan Learning and Sharing).

“Akan ada tabel ranking dan semacam speedometer, seperti 5 jam belajar, 20 jam sharing. Sehingga karyawan mengetahui posisi mereka ada dimana.” Ujar Raleby sembari menunjukkan platform Smarter kepada redaksi Improve!

Meskipun kaya akan fitur dan inovasi, saat pertama kali diperkanalkan, platform-platorm yang disediakan oleh BNI Corporate Univeristy mendapatkan beragam tantangan dan hambatan. “Tentu ada keluhan dari pegawai, karena ini konsep yang baru, pegawai merasa belum mendapat pelatihan jika belum diundang training ke kantor pusat” ujar Mohammad Raleby Learning Experience & Operations Deputy Division Head BNI.

Selain memiliki Smarter sebagai dashboard pembelajaran, BNI Corporate University juga menghadirkan platform DEEP46. DEEP46 merupakan singkatan dari Daily Employee Exercise Program 46 (DEEP46). Program ini memungkinkan BNI Corporate University melakukan evaluasi/ pop quiz harian untuk pegawai berdasarkan segmen dan fungsi unit kerjanya. Pegawai BNI dapat melihat pencapaiannya yang ditampilkan dalam bentuk ranking per divisi dan posisi di antara segenap pegawai BNI. Raleby mengungkapkan bahwa semua pegawai BNI setiap hari dari jam 00 sampai jam 12 siang akan dapat menjawab 1 sampai 4 pertanyaan di platform DEEP46 melalui PC/ gadgetnya.

‘Pop Quiz’ yang dikeluarkan oleh platform DEEP 46 merupakan pertanyaan yang berkaitan dengan tupoksi masing-masing karyawan. Tujuannya adalah agar pegawai dapat memahami dan mengevaluasi pengetahuannya serta merefresh ilmu yang sudah didapatkan. “Kami tidak berharap pegawai selalu mampu menjawab pertanyaan dengan benar, namun apabila jawabannya salah, pegawai akan tetap belajar sampai pada akhirnya menemukan jawaban yang benar, ini yang sebenarnya jadi concern kami, mengajak pegawai untuk senang belajar dan engaged” ujar pria yang akrab disapa Eby ini.

BNI Learning Wallet (BLW) adalah salah satu inisiatif preferensi pembelajaran baru dengan paradigma learning as the center of learning. BLW merupakan bagian dari arsitektur human capital di BNI, di bagian learning & development. Terdapat 3 peran Human Capital (HC) dan learning departement dalam arsitektur HC di BNI, yaitu talent development, talent retention dan talent acquisition. BLW masuk ke dalam bagian talent development dan talent retention. Melalui program ini karyawan BNI dapat menggunakan anggaran yang telah di alokasikan kepada segenap pegawai untuk meningkatkan kompetensinya melalui berbagai jenis learning program sesuai dengan preferensinya.

Sebelum membagikan anggaran sebagai reward bagi karyawannya lewat BLW, BNI melakukan assessment kepada seluruh pegawai untuk membagi mereka ke dalam Talent Classification. Tujuannya menetapkan program pengembangan pegawai dan menentukan besaran reward yang akan diterima nantinya. Terdapat lima talent class yaitu, Club 46, Promotable, Solid Contributor, Sleeping Tiger dan Unfit.

Club 46 merupakan talent yang memiliki learning performance tinggi, kompetensi dan capacity tinggi. Promotable, merupakan talent yang performance dan kompetensi capacity-nya berada persis di bawah Club 46. Solid Contributor merupakan talent yang memiliki performance baik, namun kompetensi capacity masih rendah. Selanjutnya Sleeping Tiger adalah pegawai yang memiliki learning performance rendah, kompetensi capacity tinggi, dan Unfit adalah talent yang learning performance dan kompetensi capacity-nya rendah.

Dengan kata lain, BLW sebagai perwujudan dari talent development yang dibalut dengan talent retention dan reward program. “Maka dari itu talent classification dari assessment yang kami lakukan berpengaruh terhadap learning development dan learning budget masing-masing pegawai.”

Selain diatur berdasarkan talent classification, besaran budget training yang didapatkan karyawan juga dipengaruhi juga oleh keaktifan mereka dalam menggunakan platform BNI Smarter dan Deep46.

“Semua pegawai mendapat 1 juta rupiah di awal sebagai basic budget BLW. Jika mereka rajin, mengisi Deep setiap hari, sering ikut pelatihan dan berbagi pengetahuan, atau apabila mencapai peringkat 10 besar, mereka akan mendapatkan tambahan lagi sebesar 1 juta rupiah. Selain kedua jenis alokasi tersebut, pegawai akan mendapat alokasi yang besarannya disesuaikan dengan talent classification masing-masing.”

Setalah mendapatkan alokasi anggaran BLW, karyawan dapat ‘membelanjakannya’ dalam bentuk berbagai jenis learning baik yang dikalukan secara eksternal atau internal seperti membeli buku, e-learning berbayar, workshop, public training dan lain-lain.

 

Tantangan dan Sosialisasi
Pada awal diperkenalkan, platform yang dibuat belum belum populer di kalangan pegawai BNI. Setelah dilakukan evaluasi dan analisa, terdapat kendala dari para karyawan dalam mengakses platform yang perusahaan sediakan, antara lain dari fasilitas gadget yang belum mendukung. “Selain itu, shifting paradigma learning yang baru juga perlu disosialisasikan kembali, seperti misalanya pegawai masih berpikiran kalau ‘training yang sesungguhnya’ itu apabila pembelajarannya diadakan di Jakarta”. Tegas Raleby.

 

Monitoring & Approval
Sistem BLW memiliki mekanisme pengawasan dan perencanaan tersendiri. Sebelum membelanjakan anggaran untuk meningkatkan kompetensi, mereka wajib berkonsultasi dengan atasan untuk menentukan gap kompetensi apa saja yang perlu diperbaiki.

Setelah mendapatkan persetujuan, barulah karyawan dapat mengikuti sesi learning. Sama seperti training eksternal kebanyakan, pertanggung jawaban juga tetap dilakukan oleh karyawan dengan pembuatan laporan secara digital yang harus disampaikan kepada perusahaan.

Untuk learning eksternal, perusahaan mengeluarkan kebijakan reimbursement kepada karyawan. “Setelah selesai ikut pelatihan, pegawai wajib membuat laporan dan diserhkan ke atasan, ini juga sebagai bukti untuk melakukan reimbursement kepada perusahaan” tegas Raleby.

Diganjar Akreditasi Internasional
Upaya perseroan mengembangkan kompetensi pegawainya untuk mampu beradaptasi menghadapi perubahan bisnis yang semakin cepat ini berbuah manis. European Foundation for Management Development (EFMD) memberikan akreditasi Corporate Learning Improvement Process (CLIP) atas apa yang telah dilakukan BNI Corporate University.

EFMD adalah lembaga akreditasi Eropa yang menguji lembaga-lembaga pengembangan pegawai perusahaan. Sejauh ini EFMD telah memberikan akreditasi kepada 766 lembaga pembelajaran di seluruh dunia.

Direktur Kepatuhan BNI Endang Hidayatullah, dalam keterangannya mengungkapkan upaya menjadikan BNI Corporate University sebagai organizational learning berkelas dunia tentunya membutuhkan upaya sungguh-sungguh untuk mendukung BNI Corporate University menjadi strategic partner business di BNI.

“Terdapat 35 standar yang perlu dipenuhi secara komprehensif dan detail. BNI dalam hal ini dianggap telah melampaui standar yang menjadikan BNI mendapatkan pedikat CLIP accredited” ujar Endang dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/3).

Akreditasi yang diterima BNI terbilang sangat membanggakan karena Corporate University yang dimiliki BNI merupakan satu-satunya corporate university digital yang pernah diakreditasi oleh EFMD.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *