4 Kunci Sukses Organisasi di Tengah Perubahan

Salah satu teori Darwin yang paling terkenal mengatakan bahwa mahluk hidup yang bisa bertahan hidup hingga sekarang ini bukanlah mahluk hidup yang terbesar, terkuat, atau pun terpintar tetapi yang bisa mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan alam yang terjadi. Dengan kata lain alam lah yang akan menentukan siapa saja yang dapat bertahan hidup. Jika mahluk hidup tersebut tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan perubahan yang sedang terjadi maka ia lambat laun akan mati. Dalam konteks bisnis teori ini juga berlaku dan banyak dipercaya oleh banyak pelaku bisnis.

Dunia bisnis selalu berubah-ubah dan sulit untuk diprediksi arah perubahannya. Kita banyak menyaksikan perusahaan yang besar dan jaya di masa lalu tetapi saat ini keadaannya sangatlah menyedihkan bahkan tidak sedikit yang hanya tinggal namanya saja. Salah satu penyebab kejatuhan banyak perusahaan besar di dunia adalah ketidakmampuan perusahaan tersebut untuk mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi di dunia bisnis. Di lain pihak salah satu penentu keberhasilan perusahaan-perusahaan yang sedang berjaya sekarang ini adalah kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Untuk dapat melakukan hal tersebut kemampuan perusahaan untuk selalu belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi juga harus ditingkatkan.  Karena itulah lahir konsep pembelajaran organisasi (learning organisation) dari Peter M Senge yang mengatakan bahwa organisasi yang belajar adalah organisasi yang mampu memotivasi individu yang berada di dalamnya untuk senantiasa belajar dan mengembangkan diri. Apabila hal ini dilakukan diharapkan organisasi yang bersangkutan lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di dunia bisnis. Pertanyaan berikut yang muncul adalah apakah yang harus dilakukan oleh sebuah organisasi apabila ingin menciptakan pembelajaran organisasi?

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menciptakan pembelajaran organisasi. Yang pertama adalah menentukan visi dan misi dari organisasi. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan arah bagi seluruh anggota organisasi agar dapat memperkirakan hal-hal apa saja yang harus dipelajari, dipersiapkan, dan diciptakan untuk dapat mewujudkannya. Lebih jauh lagi visi dan misi dapat digunakan untuk menciptakan sense of urgency yang akan mewarnai seluruh kegiatan organisasi.

Yang kedua, adanya suatu atmosfir yang mendukung kreativitas para pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Kreativitas merupakan sesuatu yang sangat vital dalam sebuah organisasi yang belajar. Tujuan akhir dari pembelajaran organisasi adalah terciptanya suatu organisasi yang mampu menciptakan terobosan-terobosan baru dalam melakukan kegiatannya. Untuk itu jika sebuah organisasi ingin menciptakan suatu lingkungan yang dapat memotivasi individu untuk belajar maka semua orang yang bekerja di dalamnya haruslah mampu menghargai pikiran dan cara baru dalam melakukan bisnis. Microsoft tidak akan sukses jika para pekerjanya tidak berpikir kreatif untuk menggantikan sistem Dos yang ketika itu banyak dipakai orang dengan sistem Windows yang mereka ciptakan. 3M tidak akan sukses jika ide menciptakan memo post it ditentang oleh pemiliknya. Yang patut digarisbawahi adalah tantangan yang timbul ketika proses kreativitas sedang terjadi. Proses kreativitas dalam bekerja akan menimbulkan keinginan karyawan untuk selalu belajar dan merasa tertantang dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Pada saat kesempatan untuk berkreativitas ditutup maka pada saat itulah orang-orang yang berada di dalamnya ikut pula berhenti belajar.

Yang ketiga, adanya suatu sistem bagi para karyawan untuk dapat saling bertukar pengetahuan. Ciri khas dari sebuah organisasi yang belajar adalah adanya transfer pengetahuan antar individu yang berada di dalamnya. Yang dimaksud di sini bukanlah fasilitas fisik seperti training center atau perpustakaan tetapi lebih merupakan suatu sistem yang memungkinkan seluruh individu di dalam perusahaan dapat bertukar pikiran dan pengetahuan. Sebagai contoh saling berbagi praktek bisnis terbaik (best practice) antar karyawan dalam melakukan suatu pekerjaan, pemberian akses informasi yang sama bagi tiap karyawan juga dapat mendukung terciptanya proses learning organization. Pada dasarnya penyebaran pengetahuan dalam organisasi akan mempercepat individu yang berada di dalam perusahaan tersebut untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

Keempat adalah pemberdayaan (empowerment). Yang dimaksud dengan pemberdayaan adalah pelimpahan sepenuhnya pengambilan keputusan ke lini depan perusahaan untuk tujuan tertentu Kadangkala pemberdayaan sering disalahartikan dengan delegasi.  Padahal keduanya merupakan hal yang berbeda. Perbedaan mendasar antara delegasi dan pemberdayaan adalah dalam hal tanggung jawab. Delegasi merupakan pelimpahan wewenang yang tidak diikuti dengan pelimpahan tanggung jawab sebaliknya pemberdayaan diikuti dengan pelimpahan tanggung jawab. Sehingga seorang karyawan yang di-empower berhak untuk mengambil dan mempertanggungjawabkan keputusan sendiri. Pemberdayaan harus dilaksanakan di dalam perusahaan untuk mendukung karyawan supaya berani melakukan kreativitas yang diperoleh dari proses belajar yang sedang dilakukan. Sulit mengharapkan seseorang untuk mau belajar jika ia tidak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajarinya. Untuk itu perlu diberikan suatu kewenangan bagi mereka untuk mempraktekkan apa yang dipelajarinya, hal inilah yang menjadi tujuan dari pemberian pemberdayaan.

Pada dasarnya yang diperlukan untuk menciptakan suatu pembelajaran organisasi adalah  adanya suatu visi untuk menentukan ke arah mana organisasi itu akan berjalan, iklim yang mendukung terciptanya proses kreativitas, sistem yang memberikan kesempatan bagi semua orang untuk saling bertukar pengetahuan, dan adanya pemberdayaan yang memberikan kepercayaan kepada karyawan untuk mengambil dan mempertanggung-jawabkan keputusannya sendiri. Organisasi yang berhasil bukanlah organisasi yang terbesar, bukan pula organisasi yang terpintar tetapi organisasi yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dan pembelajaran organisasi memastikan hal tersebut terjadi.

 

PQM Consultants menyelenggarakan workshop Supervisory Management pada tanggal 8-10 Oktober 2019 dalam bentuk Public Training, informasi lebih lengkap dapat Anda simak di sini.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *