Aloysius Budi Santoso: Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0

Nama Aloysius Budi Santoso seakan tak terpisahkan dengan PT Astra International Tbk. Pria yang berdedikasi pada pengembangan sumber daya manusia di perusahaan tersebut belakangan ini menaruh perhatian pada Revolusi Industri 4.0 dan Future of Work. Apa yang membuat perusahaan sekelas Astra International menganggap kedua hal tersebut penting diperhatikan saat ini?

Bertahun-tahun menggeluti dunia digital, Aloysius Budi Santoso kini fokus menatap Revolusi Industri 4.0 dan the Future of Work. Menurut pria yang biasa disapa Aloysius tersebut, keduanya menjadi tantangan revolusi terbaru yang menunggu di depan pintu kita, yang perlu diperhatikan dan direspon oleh perusahaan-perusahaan dari berbagai industri di Indonesia.

Pada gelaran yang diadakan PQM Consultants 24 Oktober 2018 lalu, Aloysius menyampaikan keprihatinannya mengenai perusahaan-perusahaan Indonesia yang dia nilai lambat merespon dan bersiap untuk Revolusi Industri 4.0. Menurutnya, perusahaan di negara-negara lain sudah mempersiapkan diri delapan tahun lebih awal, sehingga revolusi digital tak membuat mereka gugup. Berbeda dengan Indonesia, yang cenderung gugup menanggapi pertumbuhan bisnis online retail yang sangat cepat.

Menurut Chief Corporate Human Capital Development di PT Astra International Tbk tersebut, di tahun 2020, kombinasi dari Lazada, Bukalapak dan Tokopedia akan menghasilkan 300 juta transaksi per bulannya. Jumlah yang luar biasa bila dibandingkan dengan masa sebelum bisnis e-commerce meledak.

Lebih jauh, mari kita simak pandangan Aloysius Budi mengenai Revolusi Industri 4.0 dan Future of Work, dalam wawancaranya dengan PQM Consultants.

 

Hal apa saja yang menandakan Era Industri 4.0 tengah kita rasakan saat ini?

Era Industri 4.0 ditandai dengan tiga tren utama. Seperti yang dikatakan oleh Klaus Scwab, pendiri dan Executive Chairman di World Economic Forum, trend yang pertama adalah tren Biologi, dimana manusia mampu menggabungkan beberapa DNA menjadi suatu makhluk hidup baru dalam waktu yang singkathanya satu jamdan biaya yang relatif murah.

Kedua adalah tren Fisika , yang ditandai dengan adanya kendaraan tanpa supir, 3D printing, advanced robotic dan otomasi. Astra sendiri merasakan langsung tren ini, di mana saat membangun pabrik keempat dan kelima di Karawang, Astra hanya membutuhkan 60 persen sumber daya manusia dibandingkan dengan pendirian pabrik sebelumnya. Hal ini menunjukkan betapa fundamentalnya penerapan hal ini di hampir semua sektor, termasuk manufaktur.

Yang ketiga adalah Digital atau yang dikenal dengan Internet of Things (IoT), di mana segala sesuatu sudah tersambung kepada sistem, menjadi serba online. Hal ini juga turut mengubah perilaku masyarakat, yang tadinya kita lebih suka mencoba sendiri saat akan membeli baju di toko, saat ini hanya menggunakan handphone untuk membelinya dan barang akan sampai ke rumah.

 

Apa dampak Revolusi Industri 4.0 yang paling terasa?

Future of Work memberikan dampak pada fungsi pekerjaan, keterampilan kerja, dan praktik pekerjaan. Mengutip dari Future of Job Survey dari World Economics Forum, dampak ini terjadi karena dua pemicu besar.

Yang pertama adalah faktor demografi dan sosio-ekonomi, yang menyebabkan perubahan cara kerja yang lebih fleksibel. Yang kedua dan paling utama adalah teknologi, dengan munculnya teknologi mobile cloud computing (MCC), kemampuan untuk memproses big data, teknologi sumber daya baru, dan lagi-lagi, Internet of Things. Semua itulah yang menyebabkan ‘disruption’ dan perubahan cara kerja manusia saat ini dan di masa depan. Penting bagi kita untuk bisa mengantisipasinya.

 

Seperti apa kemampuan adaptasi perusahaan di dunia terhadap Revolusi Industri 4.0 dan Future of Work?

Kemampuan adaptasi suatu negara atau perusahaan terhadap Future of Work tak sama. Berdasarkan laporan terakhir World Economic Forum yang bekerja sama dengan Boston Consulting Group di tahun 2018, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kemampuan adaptasi.

Yang pertama adalah adaptasi terhadap teknologi. Seberapa cepat perusahaan beradaptasi terhadap teknologi. Kedua, kemampuan belajar dan pendidikan. Seberapa cepat orang-orangnya di perusahaan mampu belajar. Ketigaini tak kalah pentingadalah kemampuan talent mobility yang dimiliki perusahaan.

Talent mobility, atau mobilitas talenta, sangat penting bagi kemampuan organisasi Anda untuk secara dinamis mengembangkan dan menyelaraskan tenaga kerja saat ini dan di masa depan dengan kebutuhan bisnis strategis. Ini adalah proses pemindahan talenta (karyawan/SDM) dari peran yang satu kepada peran yang lain. Dengan kata lain, menempatkan orang yang tepat, dengan keterampilan yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.

Intinya, perusahaan yang tidak bisa beradaptasi akan kalah dalam kompetisi, karena dalam dunia bisnis tidak ada belas kasihan.

 

Jenis pekerjaan apa sajakah yang paling terdampak pada Revolusi Industri 4.0?

Tiga pekerjaan utama yang akan berubah di tahun 2015-2020 di antaranya adalah pekerjaan administrasi kantor, manufaktur dan produksi, serta konstruksi dan ekstraksi. Namun demikian ada juga jenis pekerjaan lain yang terpengaruh, di antaranya operasi bisnis dan finansial, manajemen, komputer dan pekerjaan terkait matematika.

Menurut perkiraan, di masa depan akan ada 33 persen jenis pekerjaan yang akan hilang dalam lima tahun mendatang, dan akan terjadi re-sklling dan up-skilling dari karyawan di perusahaan kita.

 

Kemampuan apa yang perlu dimiliki manajemen dan staf agar dapat menghadapi Revolusi Industri 4.0?

Kemampuan Complex Problem Solving sudah pasti perlu dimiliki. Karena motor dari Revolusi Industri 4.0 adalah teknologi terbaru, ini membuat kecepatan perubahan itu tidak linier. Karenanya, kita dituntut untuk mampu memecahkan masalah yang makin kompleks. Kita perlu kemampuan memecahkan masalah yang kompleks, dan kemampuan merancang sistem yang terbaik. Kemampuan inilah yang harus disiapkan di lini SDM.

Untuk mendukung hal ini, perlu ada functional skill yang harus dikembangkan, yaitu Science, Technology, Engineering, Art, Math (STEAM). Art perlu diberikan supaya orang tidak semakin menjadi seperti robot. Sedangkan soft skill yang harus dikembangkan adalah kreativitas, kemampuan menganalisis, selain kemampuan problem solving, komunikasi dan entrepreneurship.

 

Bagaimana strategi yang bisa diterapkan di Indonesia untuk merespon perubahan tersebut?

Yang paling penting adalah pemerintah harus menciptakan regulasi yang siap menghadapi hal ini. Apa yang sudah dicanangkan Presiden Joko Widodo dalam Making 4.0 di bulan April lalu harus benar-benar diimplementasikan. Dunia (industri) swasta juga tergantung dengan regulasi tersebut selain sistem yang dimiliki. Kemudian yang penting juga adalah hubungan yang solid, misalnya antara kementrian tenaga kerja dengan dunia pendidikan atau dunia industri.

 

Apa yang harus disiapkan perusahaan untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0?

Fungsi divisi sumber daya manusia (HR) di organisasi harus ditata ulang, misalnya untuk menyesuaikan kemampuan karyawan dengan teknologi atau mesin-mesin baru yang serba otomatis. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah kita siap membentuk keterampilan baru para operator untuk mengoperasikan alat-alat cangging?

Sejauh yang saya lihat, implementasinya ternyata tidak mudah. Contohnya adalah, perusahaan agrobisnis di grup Astra sejak tiga atau empat tahun lalu mulai menginisiasi mekanisasi dengan cara yang sederhana. Namun demikian, hal tersebut pun memerlukan change management yang luar biasa. Bukan hal yang mudah menyiapkan para pengebun kelapa sawit yang bisasa bekerja dengan alat (yang sederhana).

Selain hal tersebut, lingkungan kerja yang fleksibel juga penting untuk diwujudkan, terutama bagi para Milenial. Saat ini Astra sendiri memiliki 224.472 karyawan di 224 perusahaan, dengan komposisi 70 persennya adalah Gen Y dan mulai masuk Gen Z.

Hal terakhir adalah mengenai cross-industry dan kolaborasi antara perusahaan publik dan swasta. Ini adalah pekerjaan kita bersama sebagai bagian dari stakeholder bangsa ini. Diperlukan kerja bersama antara perusahaan, antara institusi pendidikan dengan pemerintah agar bangsa Indonesia siap menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Future of Work dan tidak semakin tertinggal dari bangsa lain.

 

Profil Aloysius Budi Santoso

Dua puluh tujuh tahun pengabdian di PT Astra International Tbk membuat nama Aloysius Budi Santoso tak terpisahkan dengan perusahaan yang membesarkannya tersebut. Dia memulai karier sebagai Sales Executive di PT Astra Graphia Information Technology, salah satu anak perusahaan Astra International. Enam belas tahun kemudian, dia menjabat sebagai Chief of Business Development and Management System di PT Astra Graphia Tbk. Saat ini, Aloysius dipercayakan jabatan Chief Corporate Human Capital Development di PT Astra International Tbk.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *