OEE di Era Modern: Mengatasi Tantangan Industri Terbaru dengan Formula Lama

OEE membawa keuntungan signifikan bagi pabrik. Hal ini dikarenakan OEE dapat menjadi landasan kegiatan perbaikan/improvement seperti pengurangan waktu henti, pengurangan peralatan dan biaya perawatan, tenaga kerja yang lebih efisien, peningkatan produktivitas dengan lebih sedikit hambatan, dan peningkatan kualitas produk serta pengurangan waste. Namun OEE adalah perhitungan yang sangat baik untuk tolok ukur produktivitas, menurut pakar manufaktur Ken Pulverman, konsep ini perlu didefinisikan ulang agar sesuai dengan dunia manufaktur modern di era Industry 4.0.

 

Di banyak pabrik, Total Productive Maintenance (TPM), digunakan untuk mengukur dan mengelola produktivitas organisasi. TPM adalah metodologi berbasis proses peningkatan yang berkaitan dengan mengoptimalkan mesin dan produktivitas perusahaan secara terus-menerus.

Salah satu tujuan utama TPM adalah meningkatkan Overall Equipment Effectiveness (OEE). OEE merupakan standar yang luas untuk mengukur dan mengelola produktivitas peralatan di pabrik.

Secara umum, ini dihitung sebagai: OEE = Availability (Ketersediaan) x Performance (Kinerja) x Quality (Kualitas)  dan diukur dari 0-100% (semakin tinggi, semakin baik).

Sebagian besar profesional di bidang manufaktur memahami bahwa OEE adalah metrik ringkasan dari total output produktif yang dihasilkan dari peralatan yang ada, atau apa yang sebenarnya dapat dihasilkan atau dijual. 

Perusahaan manufaktur biasanya mengoperasikan sekitar 60 hingga 65 persen OEE. OEE kelas dunia adalah 85 persen atau lebih baik. 

 

Sejarah OEE

Asal-usul OEE sebenarnya lebih bersifat manusiawi sebelum eranya mesin. Sementara istilah itu diciptakan pada awal 1980-an oleh Seiichi Nakajima, penggagas total productive maintenance (TPM), konsep ini berakar pada karya Harrington Emerson, seorang insinyur efisiensi Amerika yang penelitiannya memuncak dalam bukunya tahun 1912, The 12 Principles of Efficiency, yang berfokus pada optimalisasi efisiensi secara keseluruhan dalam pekerjaan industri.

Salah satu manfaat utama dari perhitungan OEE adalah bahwa hal itu memungkinkan berbagai jenis bisnis untuk dibandingkan, mengidentifikasi besarnya masalah yang mendasar.

Bagaimanapun juga perhitungan OEE sangat terkait dengan mesin. Hal ini telah mengakibatkan sebagian besar perusahaan berpikir tentang orang-orang di lantai manufaktur sebagai bagian dari lini di mana mereka bekerja. 

Secara umum manusia berupaya lebih jauh untuk meningkatkan output dari mesin yang tidak dapat diandalkan. Itu adalah pandangan optimis tentang dunia industri yang hampir menganggap manusia bekerja sempurna, dan kemudian menggantungkan hasil yang bisa mereka capai kepada peralatan yang sulit diatur. Memang, enam kerugian besar dalam definisi Nakajima bisa dibilang semuanya berbasis mesin:

Availability Performance Quality
Planned Downtime Minor Stops Production Rejects
Breakdowns Speed Loss Rejects atau Startups

 

Perlunya Perhitungan Yang Lebih Modern

Masalah dengan formula OEE saat ini adalah bahwa mesin kira-kira 20 kali lebih dapat diandalkan daripada beberapa dekade yang lalu, menurut sebuah studi baru-baru ini oleh Academies of Sciences, Engineering and Medicine yang berbasis di Washington D.C., Amerika Serikat.

Gambaran sebuah pabrik saat ini jauh berbeda dari apa yang dianggap canggih di tahun 1980-an. Beberapa perbedaan utama meliputi yang berikut:

Lebih Banyak Produk—Pabrik saat ini terus dikonfigurasi ulang untuk memproduksi lebih banyak produk, banyak di antaranya yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibuat oleh mesin-mesin yang sudah ada di sana. Ini berarti manusia sekarang harus dilatih dan mengingat banyak konfigurasi dan pengaturan untuk memproduksi semua produk ini sesuai rencana.

Lebih Sedikit Karyawan Terlatih—Di banyak pabrik, tenaga kerja semakin menua; persentase pekerja dalam serikat pekerja yang lebih tua dari 45 tahun adalah 64 persen. Pekerja yang lebih muda yang sekarang memasuki masa di mana manufaktur sedang mempelajari sistem yang rumit dari nol, dan mungkin tidak mendapat manfaat dari pengetahuan dan keahlian yang dimiliki para senior tua mereka.

Mesin yang Lebih Handal—Seperti yang disebutkan sebelumnya, pabrik modern bukan lagi tentang apa yang bisa dilakukan manusia untuk mesin, tetapi lebih seperti yang manusia lakukan untuk manusia lain.

Jadi, ada orang yang kurang berpengalaman melakukan pekerjaan yang lebih kompleks dengan peralatan yang lebih canggih dan lebih dapat diandalkan. Jika kita kemudian mengurai OEE seperti yang telah dihitung secara tradisional, itu masih akurat, tetapi untuk saat ini tidak lagi mampu menguak masalah yang mendasarinya.

 

‘Kesalahan’ di Pabrik Era Modern

Jika kita mempertimbangkan apa yang tampaknya salah di pabrik saat ini, kerumitan semata-mata hanya membuat banyak produk dan mengetahui apa yang harus dilakukan setiap kali kita mulai memproduksi produk baru telah menjadi terlalu banyak untuk diingat.

Ketika kita mengkonfigurasi ulang peralatan untuk membuat produk baru dengan cepat, hal-hal gila bisa terjadi. Pengaturan peralatan mungkin salah, pasokan baru mungkin dihitung secara tidak benar, “jig” dan komponen mungkin digunakan secara tidak benar.

Manajer pabrik dan para supervisor sering berbicara tentang “titik kritis” alias sumber masalah pada jalur produksi. Ini terjadi ketika peralatan memiliki cacat bawaan atau ketika konfigurasi ulang telah menyebabkan anomali yang menyebabkan kerusakan mesin.

Contohnya adalah pabrik sereal, di mana roda konveyor macet pada titik tertentu di jalur dan perlu dilumuri dengan minyak mineral setiap hari. Ini bukan cacat mesin, melainkan lebih kepada tata cara penggunaannya.

Itu adalah masalah pemeliharaan preventif yang diketahui dan dapat dikelola—yang dapat ditangani oleh masing-masing operator. Namun jika staf maintenance atau operator tak melakukannya, lini terhenti, dan ada kemungkinan seluruh kota tidak mendapatkan sereal mereka minggu itu.

Mungkin mudah untuk melihat masalah ini sebagai kesalahan manusia, tetapi tidak sesederhana itu. Quality Guru W. Edwards Deming mengajarkan bahwa 94 persen kesalahan berasal dari sistem itu sendiri, dan hanya enam persen yang disebabkan langsung oleh manusia. Yang dimaksud dengan “sistem” adalah kumpulan instruksi dan lingkungan kerja yang diatur oleh tim manajemen untuk para pekerja.

Jadi, jika bukan mesin dan bukan pekerja, maka manajemen dan insinyur industri yang merancang alat (pabrik) dan teori bagaimana menjalankannya (instruksi kerja) adalah pihak yang patut disalahkan.

 

OEE 2.0: Menetapkan Faktor pada Dimensi Manusia

Namun, itu juga pernyataan yang terlalu mudah. Pabrik modern dan persyaratannya untuk beroperasi dengan lancar sangat kompleks. Tambahkan banyak produk, dan kita akan menghasilkan kekacauan dalam proses produksi yang sangat susah—bahkan tak mungkin—menghasilkan proses yang sempurna dalam percobaan pertama.

Yang harus kita tentukan adalah bagaimana menerima realitas ini dan mengoptimalkannya. Kita harus menambah pekerja, sehingga mereka dapat melakukan lebih banyak pekerjaan secara akurat dengan pengetahuan yang lebih sedikit di muka dan dieksekusi dengan presisi.

Melalui data, peluang untuk perbaikan berkelanjutan akan terungkap. Jika kita mempertimbangkan dari sisi bisnis dalam hal ini, kita akan bisa melihat kerugian mikro yang dapat dikurangi atau dihilangkan. OEE yang diredefinisi—sebut saja OEE 2.0—harus bisa menggali sumber kerugian mikro ini sehingga tim dapat fokus pada menghilangkan akar penyebab masalah.

Pada akhirnya, kita harus berusaha mencegah apa yang bisa dicegah, kesalahan yang disebabkan oleh proses atau desain workstation, prosedur yang salah atau kurang lengkap, pelatihan yang terlewat, kesenjangan rantai pasokan, dan sebagainya.

Dengan munculnya teknologi yang dapat menghasilkan data granular tentang pekerjaan yang dilakukan oleh manusia, kerugian mikro ini dapat diekspos untuk pertama kalinya. Kita memiliki kekuatan untuk mengenali, mengelompokkan, dan memprioritaskan mereka untuk diselidiki dan dihilangkan.

Meskipun mengusulkan kalkulasi baru untuk OEE mungkin terlalu dini, kita tentu siap untuk mengidentifikasi tantangan dan mengambil tindakan lebih lanjut. Suatu hari, kita mungkin sekali lagi dapat menyalahkan robot humanoid karena menyebabkan masalah. Tetapi pada awal abad ke-21, mesin-mesin itu hampir tidak bersalah karena mereka bekerja dengan sangat baik.

Di sinilah kita (manusia) menempatkannya, bagaimana kita mengonfigurasinya, bagaimana kita mengoperasikannya, dan bagaimana kita mempertahankannya menjadi hal-hal yang perlu dinilai dengan data.

Artikel ini ditulis oleh pakar di bidang efisiensi dan manufaktur, Kevin Pullerman, dengan judul asli “Redefining OEE for the Modern Era” yang dimuat oleh ReliablePlant.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *