Complex Problem Solving: Kunci Survival di Masa Depan

Dalam dunia kerja saat ini, karyawan diharapkan memiliki kecakapan dalam keterampilan pemecahan masalah tingkat lanjut, khususnya keterampilan pemecahan masalah yang kompleks. Pemecahan masalah yang kompleks dianggap sebagai sebuah keahlian yang berbeda dibandingkan dengan pemecahan masalah secara umum. Ini jelas dibutuhkandan akan menguntungkan baik individu maupun perusahaanuntuk menghadapi the so-called future of work!

 

Ini adalah eranya perkembangan teknologi digital, yang telah mengubah banyak hal di muka bumi, termasuk dunia kerja di Indonesia. Kemajuan teknologi digital saat ini akan sangat mempengaruhi banyak pihak di perusahaan, termasuk para pembuat keputusan, pemimpin bisnis dan karyawan. Suka atau tidak, kita semua harus menyesuaikan diri.

Mungkin banyak yang melihat teknologi baru sebagai ancaman, tapi kita yang berpikiran maju dan selalu ingin improve akan melihatnya sebagai tantangan sekaligus peluang. Pendidikan dan pelatihan soft skill oleh perusahaan sangat penting untuk membekali karyawan agar mampu bekerja dan memecahkan masalah di masa depan.

 

Peran Pemerintah

Peran pemerintah dalam upaya pembekalan juga krusial. Seperti yang disampaikan Presiden Jokowi di sela gelaran Making Indonesia 4.0 pertengahan April lalu, pemerintah punya peran penting untuk mewujudkan cita-cita membuat Indonesia menjadi “kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020.”

Pemerintah harus memastikan pekerjaan di masa depan sesuai dengan program pendidikan, program strategi pemerintahan, dan program vokasi untuk asosiasi industri yang kuat sesuai dengan rencana edukasi dan pelatihan vokasi dari pemerintah.

Faktanya, bahwa sekitar sembilan persen pekerjaan telah digantikan oleh otomasi. Oleh karena itu diperlukan pelatihan SDM yang sesuai agar memiliki semua skill yang dibutuhkan pasar tenaga kerja di masa yang akan datang.

 

Kemampuan Penting yang Kita Perlukan di Masa Depan

Di antara banyak kemampuan yang harus dimiliki karyawan di masa depan adalah yaitu complex problem solving (pemecahan masalah yang kompleks) atau CPS. Keterampilan pemecahan masalah yang kompleks adalah kapasitas yang dikembangkan yang digunakan untuk memecahkan masalah baru, masalah yang tidak terdefinisikan dengan jelas, di dunia nyata yang kompleks.

Dibangun di atas praktik-praktik berpikir kritis yang solid, seseorang dengan skill tersebut mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang, mengembangkan solusi alternatif, dan memilih solusi terbaik mengingat pemahaman mereka tentang masalah, lingkungan yang memengaruhi masalah, dan mereka yang terkena dampak solusinya.

Kemampuan CPS sangat penting di era Industri 4.0 karena akan terjadi perubahan besar pada proses bisnis. Karenanya, tenaga kerja harus mampu menyesuaikan diri dan kemampuannya pada perubahan dan perkembangan teknologi yang terjadi.

Tak hanya menguntungkan perusahaan, memiliki kemampuan complex problem solving juga akan menguntungkan diri kita sendiri. Setiap organisasi pasti memiliki permasalahan, begitu juga setiap individu. Beberapa keuntungannya di antaranya:

  • Mampu menyelesaikan berbagai masalah kompleks.
  • Membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
  • Membuat kita menjadi lebih unggul dibanding (individu atau karyawan) yang lain.
  • Meningkatkan kepercayaan diri.

World Economic Forum (WFE) pada tahun 2016 telah melakukan investigasi pada anggota LinkedIn, bahwa hanya sekitar enam persen dari 400 juta orang anggota LinkedIn yang memiliki kemampuan CPS. Berbanding terbalik dengan kebutuhan pasar tenaga kerja yang mencapai 36 persen, sehingga masih terdapat gap antara kebutuhan dengan ketersediaannya.

 

Mengapa Complex Problem Solving Sangat Diperlukan?

Pekerjaan di masa depan, terutama yang berhubungan dengan faktor teknis, kian hari terasa kian rumit saja. Hal ini menimbulkan berbagai pekerjaan yang jadi makin kompleks. Pekerjaan kompleks adalah pekerjaan yang ditandai oleh kompleksitas pengambilan keputusan, kompleksitas masalah, kompleksitas penyelesaian masalah, kompleksitas dan ambiguitas tugas, ketidakpastian dalam lingkungan dan kompleksitas interaksi yang ditimbulkannya.

Beberapa pekerjaan mengharuskan karyawan untuk menangani masalah teknis yang kritis dan kompleks hampir setiap hari. Pekerjaan berkisar dari tanggung jawab penyelesaian masalah yang menjadi bagian dari pekerjaan, hingga pekerjaan utama itu sendiri.

Contoh pekerjaan tersebut adalah: Layanan perbaikan peralatan, operasi medis organ internal, Administrasi jaringan dan basis data, Keamanan Cyber, Pemeliharaan pesawat, Uji coba pesawat, Eksplorasi minyak dan gas, Pengendalian Lalu Lintas Udara, Teknik Sipil, Teknik Biomedis, Operasi militer strategis, Satelit dan roket. kontrol, Luar Angkasa dan misi astronomi, dan masih banyak lagi.

Jenis-jenis pekerjaan ini membutuhkan karyawan dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dari segala kompleksitas dan membutuhkan kemampuan untuk melakukan tindakan cepat dan efisien.

 

Mendalami Complex Problem Solving

Masalah teknis biasanya sangat kompleks karena sifat dan efeknya yang lebih rumit daripada masalah bisnis pada umumnya. Ini membutuhkan lebih dari kemampuan pemecahan masalah umum yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengatasinya, terciptalah body of knowlegde yang berkembang dengan baik, yang disebut Complex Problem Solving (CPS). Gerakan ini awalnya dimulai di Eropa.

CPS diperlukan untuk menghadapi situasi permasalahan yang:

(1) Dinamis, karena tindakan awal menentukan lingkungan di mana keputusan selanjutnya harus dibuat, dan fitur lingkungan pekerjaan dapat berubah secara independen terpisah dari tindakan pemecahan masalah;

(2) Tergantung waktu, karena keputusan harus diambil pada saat yang tepat sehubungan dengan tuntutan lingkungan; dan

(3) Kompleks, dalam arti bahwa sebagian besar variabel tidak terkait satu sama lain dalam cara one-to-one. Dalam situasi ini, masalahnya tidak hanya membutuhkan satu keputusan, tetapi serangkaian keputusan panjang, di mana keputusan awal mengkondisikan keputusan selanjutnya.

 

Mengembangkan Keahlian CPS Melalui Pelatihan

Kompleksitas adalah salah satu dari beberapa faktor yang dapat mengakibatkan beberapa tingkat kinerja untuk tugas yang sama, dan dengan demikian dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dianggap kompeten, cakap, dan ahli. Selama proses belajar, pemula menyelesaikan versi tugas yang sederhana dan dengan meningkatnya keterampilan, ia dapat beralih ke tugas yang semakin rumit.

Memperoleh lebih banyak keterampilan, karyawan akan memperoleh keterampilan dan ia menjadi terampil dalam tugas-tugas yang lebih kompleks dan dapat memproses beberapa faktor pada saat yang sama. Dalam bukunya, Handling Complexity in Learning Environments: Research and Theory (2006), MD Merrill menyatakan bahwa “pengukuran kinerja yang memadai dalam tugas-tugas dunia nyata yang kompleks mengharuskan kita dapat mendeteksi peningkatan kinerja yang secara bertahap menunjukkan peningkatan keterampilan dalam menyelesaikan seluruh tugas kompleks, atau menyelesaikan masalah.”

Pemecahan masalah dan pemecahan masalah yang kompleks adalah proses kompleks yang membutuhkan berbagai keterampilan kognitif dan metakognitif untuk digunakan oleh pemecah masalah untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah. Penelitian telah menunjukkan bahwa ada beberapa kompetensi dan strategi yang digunakan oleh pemecah masalah yang mahir, dan yang umumnya diperoleh oleh mereka saat bekerja menyelesaikan masalah tersebut.

Pemecahan masalah teknis yang kompleks akan tetap terasa rumit, bahkan untuk individu yang sangat berpengalaman. Namun, mereka yang sudah punya kemampuan CPS dan mempraktekkannya memiliki keunggulan dalam pengalaman.

Saat memecahkan masalah sistem yang dikenal, karyawan terlatih dapat menggunakan pengetahuan mereka sebelumnya yang mereka peroleh dari pengalaman. Mereka membentuk skema representasi mental dalam pengalaman mereka.

Ada tantangan yang harus diatasi ketika membangun kecakapan dalam CPS, yang melibatkan tugas kompleks, keputusan kompleks, dan pemecahan masalah kompleks melalui pelatihan.

Tidak hanya membutuhkan trainer yang tepat untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah dunia nyata, tetapi juga pada saat yang sama perlu mengembangkan peserta didik dengan strategi yang sesuai untuk domain tersebut.

Selain CPS, skill lain yang dibutuhkan seseorang untuk menunjang kemampuan dalam menyelesaikan masalah adalah kemampuan observasi, berpikir kreatif, dan analisis yang baik. Jika ingin berhasil pada tahap implementasi solusi, dibutuhkan teamwork dan leadership yang cukup sehingga dapat mencapai tujuan bersama dalam menyelesaikan masalah. Inilah yang perlu dipikirkan seorang individu dan sebuah perusahaan.

Related posts

Leave your comment Required fields are marked *